Perusahaan Coklat Kakap Berbondong-bondong Masuk RI
05 Oktober 2010 Admin Website Artikel 292

Jakarta - Sebanyak lima perusahaan industri pengolahan kakao kelas dunia akan berencana melakukan investasi di Indonesia di bidang pengolahan biji kakao di Indonesia.

Perusahaan-perusahaan itu antaralain Cargill dan Mars dari AS, Armajarro dari Inggris, Olam International dari Singapura, dan Ferrero dari Italia.

Hal ini terungkap dari hasil kunjungan Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar dalam European Cocoa Association (ECA) di Amsterdam Belanda pada 24-25 September 2010.

Mahendra mengungkapkan pihaknya melakukan pertemuan satu per satu dengan para perusahaan coklat tersebut. Dari pertemuan itu terungkap keinginan mereka untuk berinvestasi dan peningkatan produksi dari para produsen industri coklat tersebut (Cargill)

"Mereka memang menyampaikan keinginan pada pengembangan operasional, ada yang sampai investasi, tapi ada yang fokus pada peningkatan produksi dan sustainable cocoa," kata Mahendra dalam acara konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (29/9/2010).

Selain itu kata Mahendra, saat ini investasi asing yang sudah mulai berjalan di Indonesia di bidang industri kakao olahan ada di Batam dengan kapasitas produksi 50.000 ton. Sayangnya Mahendra enggan menyampaikan siapa nama investor tersebut.

Ia juga mengatakan saat ini industri olahan kakao di dalam negeri sudah mulai pulih pasca pengenaan bea keluar kakao April 2010.

Ditargetkan industri olahan kakao di Tanah Air akan naik dari 150.000 ton menjadi 200.000 ton di akhir 2010, bahkan targetnya pada tahun 2011 akan mencapai 300.000 ton atau hampir 50% dari total produksi kakao Indonesia.

"Kelihatannya mereka yang selama ini belum punya basis produksi di sini, membuka untuk membuat basis produksi di dalam negeri," katanya.

Saat ini Indonesia tercatat sebagai negara produsen biji kakao ketiga di dunia. Menurut data International Cocoa Organization (ICCO) 2009.

Posisi pertama Pantai Gading 1,22 juta ton per tahun atau memegang pangsa pasar 38,7%. Posisi kedua Ghana dengan produksi 680.000 ton atau 21,6%, dan Indonesia 540.000 ton atau 16,2%.


Artikel Terkait