Perkebunan Rusak, Produksi Menurun Drastis
15 Juli 2011 Admin Website Artikel 340
HANDIL . Handil IX dan Handil VIII, dua kampung di pesisir Muara Jawa, Kutai Kartanegara yang dulu pernah menjadi penghasil terbesar kelapa di Kaltim. Beda dengan Handil IX, Handil VIII sedikit lebih beruntung.

Petani pohon kelapa sudah menjadi pekerjaan turun-temurun bagi warga Handil VIII. Sebagian besar warga bertahan hidup dari menjual kelapa tua. Tidak sedikit kelapa mereka dikirim ke daerah-daerah tetangga, seperti Balikpapan, Samarinda, Paser, dan Tenggarong. Menjadi petani kelapa juga memiliki budaya dan tradisi tersendiri bagi warga.

Handil VIII memiliki ratusan hektare lahan perkebunan kelapa yang tumbuh di sepanjang pesisir pantai hingga masuk ke daratan. Potensi kelapa inilah yang dimaksimalkan oleh warga sekitar untuk dijual.

Menurut Ketua RT 3 Kasrun, awal tahun "60-an dibangun pintu air untuk mengendalikan air laut melalui swadaya warga setempat. Pintu air dibangun dari bahan kayu. Warga pun tidak merasa khawatir dengan air laut yang bisa mengancam pohon kelapa. Mereka merebahkan pohon kelapa yang sudah tua, kemudian menanam bibit-bibit pohon kelapa baru.

Tak jarang buah kelapa tumbuhnya berukuran kecil, kalau sudah begini harganya murah. Kelapa berukuran kecil dihargai Rp 100, sedangkan kelapa besar ketika itu bisa dihargai Rp 200 hingga Rp 300.

Meski harga murah, tetapi produksi kelapa cukup banyak dan biaya kebutuhan ketika itu masih murah. Tidak seperti sekarang biaya kebutuhan mahal, harga kelapa juga mahal, tetapi produksi kelapa menurun.

Hingga tahun 80-an menjual kelapa menjadi usaha yang primadona di Handil VIII. Karena warga menganggap menjual kelapa tak memerlukan modal besar, hanya cukup menanam kelapa dan memetik kelapa yang sudah ada. Serta memiliki keahlian dan keberanian memanjat pohon kelapa, sudah bisa menjual kelapa. Yang dipikirkan hanya bagaimana tiap warga memiliki daya tarik bagi orang lain untuk membeli kelapanya.

Tahun "80-an hingga awal "90-an juga menjadi masa jaya bagi warga yang menjual kelapa. Ketika itu jalur darat sudah ada, karena sebelumnya warga menjual kelapa melalui jalur laut dan sungai. Melalui darat dengan menggunakan mobil dan truk, membuat warga mengurangi biaya transportasi. Sehingga warga pun memiliki keuntungan yang berlipat.

Kalau sebelumnya biaya transportasi melalui laut dan sungai terlalu mahal, kemudian membutuhkan waktu yang lama mulai dari Handil VIII ke tujuan pembeli.

Terasa hidup di atas cukup dari menjual kelapa, membuat warga terlena hingga membuat mereka terkejut ketika tahun 1994 pintu air rusak. Pohon kelapa pun perlahan mulai rusak dan mati. Warga sekitar mulai kebingungan dengan kondisi ini, sebab produksi kelapa semakin menurun dan harga kelapa di pasaran naik.

Kian tahun pendapatan dari menjual kelapa selalu mengalami penurunan, karena pintu air ketika itu tak kunjung diperbaiki. Harga kelapa yang tadinya Rp 100 hingga Rp 300 menjadi Rp 1.000 bahkan bisa mencapai Rp 3.000. "Memang harga naik, harusnya untung bagi penjual kelapa. Tetapi harga naik, kelapa yang dihasilkan sedikit," ungkap Kasrun.

Kasrun menuturkan, penghasilan kelapa yang dulunya bisa mencapai Rp 2-3 juta tiap bulannya kini bisa mendapatkan penghasilan dari menjual kelapa saja sudah bersyukur. Meski terkadang dalam sebulan bisa tidak menjual kelapa, karena gagal panen.

"Kalau sekarang bisa dapat Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta," sebutnya. Tapi Kasrun mengaku kalau Handil VIII masih tergolong beruntung dari pada Handil IX, karena wilayahnya tergolong di dataran tinggi. Jadi tidak banyak lahan perkebunan kelapa yang rusak atau mati.

"Ya, paling tidak sekitar 40 persen-lah perkebunan kelapa yang rusak dari total lahan pohon kelapa di Handil VIII,” jelas Kasrun. Dia menambahkan untuk saat ini produksi kelapa warga tiap sekali panen bisa mencapai 1.500 buah. “Kalau dahulu kan bisa mencapai 6.000 buah, bahkan lebih," tambahnya.

Pada 2008 lalu warga sempat mendapatkan angin segar, ketika itu Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kaltim membangun pintu air sebagai pengganti pintu air yang ada telah rusak. Setelah pembangunan selesai, ternyata warga tidak sampai lama menikmati kegunaan air, sebab tidak sampai seminggu tanggul pintu air jebol diterjang arus.

Singkat cerita, awalnya kontraktor membangun pintu air dengan membuat sungai buatan. Sungai utama dibendung karena akan dibangun pintu air. Kemudian air dialirkan ke sungai buatan. Setelah proyek pembangunannya selesai, sungai buatan ditutup dengan karung-karung berisikan tanah. Pintu air itu berfungsi untuk menahan air laut masuk ke perkebunan kelapa.

Menurut warga harusnya sungai buatan diuruk kembali dengan tanah, bukan malah ditutup pakai karung-karung berisikan tanah. Namun, kontraktor berlasan anggarannya tak cukup untuk menguruk kembali sungai buatan dengan tanah.

Setelah jebolnya tanggul itu perlahan kebun kelapa milik warga tidak berbuah dan akhirnya mati. "Pohon kelapa ini kan tidak tahan dengan air asin, makanya sekarang pohon-pohon kelapa pada mati," kata Kasrun. Saat ini pohon kepala yang mati sudah meluas ke wilayah lainnya. Bahkan menghancurkan sendi perekonomian warga sekitar yang memanfaatkan kelapa untuk dijual ke pasar.

Tingkat risiko mengambil kelapa juga bisa merebut nyawa. Sebab tidak ada alat khusus untuk pengamanan keselamatan ketika warga memanjat pohon kelapa setinggi 10 hingga 15 meter. Penghasilan semakin mengurang, tingkat risiko keselamatan jiwa yang rendah, juga tak mengurangi warga untuk berhenti menjual kelapa. Karena memang tidak ada pilihan lain, selain menjual kelapa untuk bertahan hidup.

Tidak sedikit warga jatuh dari pohon kelapa mengalami luka-luka dan patah tulang. Namun tidak sedikit juga warga harus meninggal karena jatuh dari pohon itu. Rentetan kejadian ini juga tak menyurutkan warga untuk berhenti menjual kelapa, meski harga jual kelapa mahal. Tetapi tetap saja tiap tahunnya produksi kelapa selalu menurun.

Karena tidak ada pilihan lain selain pohon kelapa untuk penghasilan tetap. Membuat warga mulai berpikir menjual daun pohon kelapa di pasaran. Karena daun kelapa bisa dijadikan atap rumah dan ketika itu masih banyak orang yang berminat membeli atap yang terbuat daun kelapa. Penghasilan dari jual daun kelapa cukup untuk menambah penghasilan dari menjual kelapa. Meski warga merasa itu masih jauh dari cukup, karena menurut mereka penghasilan tidak sebanding dengan kebutuhan hidup saat ini.

Kasrun mengatakan, kini sebagian warganya ada yang menjadi nelayan, karyawan perusahaan, dan berwirausaha bagi yang memiliki modal. Itu semua untuk menambah penghasilan supaya bisa bertahan hidup. "Tapi bagi yang tak memiliki modal atau keahlian mereka tetap menjual kelapa, meski penghasilannya tidak seberapa," paparnya. Dia berharap ada niat pemerintah untuk segera memperbaiki pintu air yang rusak.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, JUMAT, 15 JULI 2011

Artikel Terkait