Penutupan Sekolah Lapang Kakao di Berau
11 Oktober 2012 Admin Website Artikel 364

TANJUNG REDEB. Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim melalui Bidang Perlindungan telah melaksanakan acara Penutupan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) Kakao di kantor Disbun Berau, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kamis (11/10) pagi tadi.

Kepala Disbun Kaltim, diwakili oleh Kepala Bidang Produksi, Sukardi, SP, M.Si, mengatakan kegiatan yang telah dibuka sejak 24 Mei yang lalu, diikuti oleh 75 orang dari 3 kelompok tani, yaitu kelompok tani Alika dan kelompok tani Solata dari Dusun Makassang dan kelompok tani Mekar Jaya dari Dusun Suaran, Kabupaten Berau.

"Kegiatan telah dimulai sejak bulan Mei yang lalu, dilaksanakan sebanyak 20 kali pertemuan. Materi secara teori disampaikan sepintas, namun lebih banyak prakteknya", ungkap Sukardi dalam sambutannya.

SL-PHT, lanjutnya, lebih difokuskan pada cara - cara atau upaya pengendalian hama dan penyakit. Perlu disadari, penurunan produksi kakao selama ini lebih diakibatkan karena adanya serangan organisme pengganggu, yang hingga kini masih menghantui petani. Upaya pengendalian hama tersebut sangat sulit.

Namun begitu, melalui SL-PHT, sedikit banyak akan menolong petani dalam mengelola kebun kearah yang lebih intensif lagi. Dengan demikian, hasil yang diperoleh pun meningkat dibandingkan dengan sebelum mengikuti pelatihan ini.

"Banyak keuntungan yang bisa didapat dari mengikuti program ini, kami juga mengharapkan pada Disbun Berau turut mempertahankan program ini, bila perlu diperluas bahkan ditingkatkan. Karena begitu besar manfaatnya, terutama untuk mencapai kesejahteraan petani," tambahnya sebelum menutup acara SL-PHT Kakao ini.

Sementara itu, Suprapto, petani peserta dari kelompok tani Mekar Jaya turut memberikan kesan dan pesannya selama mengikuti kegiatan SL-PHT ini, "Terimakasih kepada pemerintah, khususnya Disbun yang telah mengadakan kegiatan yang bisa meningkatkan pengetahuan dan wawasan petani sekaligus pengalaman dalam proses pengamatan terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Selain itu perlu adanya pelatihan berikutnya, mengingat masih banyak petani yang membutuhkan pelatihan ini", harapnya. (rey)

SUMBER : BIDANG PERLINDUNGAN


Artikel Terkait