Peningkatan Mutu Kopi Melalui Pengolahan Cara Basah
13 Juli 2009 Admin Website Artikel 367
#img1# Kopi merupakan komoditas perkebunan yang mempunyai peran penting dalam perekonomian Indonesia maupun dalam menyerap lapangan kerja serta mempunyai fungsi hidrologis sehingga membantu tercapainya pembangunan yang akrab lingkungan dan berkelanjutan. Areal perkebunan kopi di Indonesia mencapai lebih dari 1.291 juta hektar dimana 96% di antaranya adalah areal perkebunan kopi rakyat. Laju perkembangan areal kopi di Indonesia rata-rata mencapai sebesar 1.9-2.2% per tahun.

Perkembangan yang cukup pesat tersebut perlu didukung dengan kesiapan teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai bagi petani, agar mereka mampu menghasilkan biji kopi dengan mutu seperti yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Indonesia. Adanya jaminan mutu yang pasti, ketersediaan dalam jumlah yang cukup dan pasokan yang tepat waktu serta keberlanjutan merupakan beberapa persyaratan yang dibutuhkan agar biji kopi rakyat dapat dipasarkan pada tingkat harga yang lebih menguntungkan.

#img2# Keberhasilan penanganan pasca panen sangat tergantung dari mutu bahan baku dan penanganan budidaya, oleh karena itu penanganan proses poduksi di kebun juga harus memperhatikan dan menerapkan prinsip-prinsip cara budidaya yang baik dan benar (Good Agricultural Practices /GAP). Penerapan GAP menjadi jaminan bagi konsumen bahwa produk yang dipasarkan diperoleh dari hasil serangkaian proses yang efisien, produktif dan ramah lingkungan sehingga petani akan mendapatkan nilai tambah berupa insentif peningkatan harga dan jaminan pasar yang memadai.

Pengolahan Cara Basah
Pengolahan kopi cara basah adalah proses pengolahan buah kopi hasil panen secara mekanis dan menggunakan air sebagai media pengolahan (perendaman dan pencucian).

Tahapan pengolahan kopi secara basah dapat dilihat pada skema berikut:
Panen - sortasi buah - pengupasan kulit buah merah - fermentasi - pencucian - pengeringan - pengupasan kulit kopi HS - sortasi biji kering - pengemasan dan penggudangan.

Panen
Pemanenan buah kopi dilakukan secara manual dengan cara memetik buah yang telah masak (berwarna merah). Buah kopi yang telah masak juga mempunyai daging buah lunak dan berlendir serta mengandung senyawa gula yang relatif tinggi sehingga rasanya manis. Sebaliknya daging buah muda sedikit keras , tidak berlendir dan rasanya tidak manis karena senyawa gula belum terbentuk maksimal. Sedangkan kandungan lendir pada buah yang telalu masak cenderung berkurang karena sebagian senyawa gula dan pektin sudah terurai secara alami akibat proses respirasi.

DIKUTIP DARI SINAR TANI, SENIN, 13 JULI 2009

Artikel Terkait