Pengusaha RI Didekati Malaysia, Pemerintah Tak Gentar
13 Desember 2010 Admin Website Artikel 316

Jakarta - Pemerintah mengaku tak gentar dengan langkah agresif Malaysia yang mengajak pengusaha-pengusaha besar Indonesia untuk berinvestasi di sana. Pemerintah Indonesia pun siap memantapkan daya saing industri dalam negeri.

"Tak apa-apa (pengusaha Indonesia didekati Malaysia). Karena investasi itu tidak memandang negara. Selama itu menarik pasti akan masuk," jelas Hidayat dalam forum Apindo mengenai Kebijakan Pengembangan Industri 2010-2014 di Jakarta, Senin (13/12/2010).

Hidayat mengatakan, pemerintah akan menjalankan 7 sasaran strategis industri di Indonesia, sehingga investasi bisa masuk dengan deras ke sektor riil.

Pertama adalah industri padat karya, industri ini memberikan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja yang besar. Meliputi industri tekstil, alas kaki, dan furnitur. Kemudian kedua, industri Kecil Menengah (IKM), yang berkedudukan strategis dalam perekonomian nasional.

"IKM yang dikembangkan antara lain, industri kreatif, fesyen, kerajinan, dan barang seni, serta industri pangan, sandang dan kerajinan melalui One Village One Product (OVOP)," jelasnya.

Industri barang modal juga memberi kontribusi yang penting. Industri ini di dalam negeri belum berkembang sesuai dengan kebutuhan sektor Industri. Untuk mendorongnya, pemerintah akan memberi fasilitas dan  pemberian insentif fiskal berupa potongan pajak, pembebasan bea masuk, tax holiday, dan dukungan kemudahan kredit perbankan.

Prioritas lain adalah industri berbasis sumber daya alam. "Kita salah satu negara produsen CPO, Kakao, dan Karet terbesar di dunia. Untuk mendorong tumbuhnya investasi industri hilir agro, pemerintah mengupayakan fasiltas tax holiday di samping tax allowance, yang akan mulai Januari 2011," tegas Hidayat.

Dua industri terakhir adalah industri pertumbuhan tinggi dan industri prioritas khusus. Dalam industri pertumbuhan tinggi antara lain kendaraan bermotor dan elektronika.

Khusus industri kendaraan bermotor, pemerintah mendorong untuk lebih mengembangkan komponen dalam negari. Selain itu memfasilitasi pengembangan desain kendaraan buatan Indonesia. Serta pengembangan mobil yang hemat energi dan ramah lingkungan.

"Industri prioritas khusus adalah industri gula, pupuk dan petrokimia," paparnya.

Demi mewujudkan visi, Hidayat yang mantan Ketua Kadin Indonesia siap memprioritaskan 6 kelompok Industri dalam lima tahun ke depan.  Peningkatan daya saing ini  harus memanfaatkan 4 instumen yakni APBN, insentif fiskal, penyediaan infrastruktur kawasan industri dan dukungan administratif serta mengundang persan swasta (Public Private Partnership/PPP).

Seperti diketahui, Wakil Perdana Menteri Malaysia YAB Tan Sri Dato Muhyiddin Yassin menggelar pertemuan dengan beberapa pengusaha besar Indonesia. Setelah 'didekati' banyak pengusaha Indonesia kembali tertarik berinvestasi di Negeri Jiran tersebut.

 

DIKUTIP DARI DETIK ONLINE, SENIN, 13 DESEMBER 2010


Artikel Terkait