Penas Bukan Kegiatan Seremonial
15 Juni 2011 Admin Website Artikel 374
JAKARTA - Pekan Nasional (Penas) XIII Petani dan Nelayan yang berlangusng setiap empat tahun sekali bukan kegiatan seremonial, tetapi merupakan upaya meningkatkan pengetahuan dan tukar menukar teknologi pertanian dalam arti luas dari seluruh Indonesia.

"Penas ini bukan acara seremonial atau hura-hura.Tetapi merupakan unjuk kebolehan teknologi para petani dan nelayan seluruh Indonesia," kata Sekretaris Penas XIII, Purwanto, pada siaran langsung, di TV One sesi Coffe Break, Selasa (14/6), pukul 11.30 WIB yang dipandu Reporter Irwanhardian.

Melalui ajang itu dihadapkan terjadi tukar menukar pengalaman dan pengembangan teknologi antara petani dari penjuru tanah air sehingga mampu mengembangkan teknologi pertanian dalam arti luas. Purwanto mengatakan berbeda dengan pelaksanaan Penas sebelumnya yang dilakukan dengan lokasi berbeda dengan jarak tertentu.

Penas XIII kali ini terpusat pada satu lokasi, yakni di stadion Aji Imbut Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Dalam lokasi tersebut juga disiapkan lahan untuk gelar teknologi mencapai 25 hektare, sehingga petani bisa belajar sangat banyak, baik soal pertanian, peternakan dan perikanan, perkebunan serta budidaya bidang kehutanan.

"Dari Penas ini kita berharap akan terjadi peningkatan pengetahuan teknologi pertanian dari berbagai gelar teknologi, sehingga dapat dikembangkan di daerah masing-masing," kata Purwanto. Terkait persiapan Penas, Purwanto mengatakan pihka panitia pelaksana berupaya maksimal dan mempersiapkannya sejak dua tahun terakhir.

Salah satu hal yang dipersiapkan, yakni soal pemondokan yang ditempatkan pada tiga kecamatan sudah siapkan ribuan rumah penduduk yang sipa menerima tamu dari seluruh penjuru tanah air yang mencapai lebih dari 30.000 peserta. Soal pemondokan ini, telah ditetapkan pesayaratan dan berbagai kelengkapan yang memadai, termasuk untuk sarana mandi cuci dan kakus (MCK) serta diupayakan pendingin udara.

Dalam kesempatan itu, Purwanto meminta para petani dan nelayan yang mengikuti Penas, segera memberitahukan pada panitia. Kapan datangnya dan berapa jumlah rombongan dengan trnasportasi pesawat atau kapal. Sehingga panitia mudah mengkoordinasikan untuk melakukan penjemputan. Masalah transportasi, Purwanto mengakui, untuk melayani tamu 30 ribu orang tidak gampang. Dengan kapasitas 50 orang per bus, diperlukan memerlukan 600 bus ditambah lagi jarak Balikpapan-Tenggarong cukup jauh sekitar 150 kilometer bukan pekerjaan mudah.

"Dengan kondisi ini, saya sebagai sekretaris mohon maaf dan dimaklumi jika ada kekurangan dalam pelayanan karena jumlah yang dilayani puluhan ribu orang denga latar belakang dan budaya berbeda," katanya. Kendati demikian, kata Purwanto panitia sudah berusaha sebaik-baiknya melayani para tamu, dengan harapan dapat memberikan kesan terbaik usai kegiatan tersebut.

Berbagai kegiatan dalam ajang ini, yaitu pameran dagang, agro forestry,temu karya, juga olahraga tradisional, gelar teknologi baru pertanian. Gelar teknologi nantinya akan diketahui respon para petani apakah teknologi itu sudah tepat guna atau belum.

"Melalui Penas ini, diharapkan dapat menciptakan daya saing yang tinggi dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi petani Indonesia," kata Purwanto ketika menjawab pertanyaan reporter.

Dia mengatakan, teknologi pertanian yang dihasilkan peniliti dari Badan Litbang baik pertanian, perikanan dan kehutanan, sudah mencapai eksistensi produktivitas tinggi. Namun, kenyataan di lapangan para petani masih menghasilkan produktivitas rendah, kondisi ini perlu akan dipertemukan yang salah satunya dilakukan melalui Penas.

"Dalam ajang alih teknologi nanti, akan difasilitasi Badan Litbang untuk mendemontrasikan teknologi mutakhir pertanian dan perikanan, peternakan, baik budidaya, benih maupun pasca panen dengan luas areal mencapai 25 hektare," ungkap mantan Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Kaltim itu. Dijelaskan, para petani diseluruh Indonesia dipersilahkan melihat hasil-hasil teknologi Badan Litbang untuk bidang pertanian, peternakan, perikanan maupun kehutanan yang bisa diadopsi maupun dipelajari petani.

"Para petani juga akan dibekali dengan pengetahuan teknologi informasi (TI). Tujuannya agar petani lebih maju dalam mengembangkan produktivitas dan kemampuan sumber daya manusia dengan menafaatkan teknologi tersebut," ujarnya.

Harapannya Penas ini, selain meningkatkan silaturahim juga komunikasi bisnis para petani berjalan baik. Nantinya apa yang kurang tentunya diperbaiki, misalnya komunikasi dengan para pengusaha dapat tersambung sehingga petani semakin sejahtera.

SUMBER : HUMAS PROV. KALTIM

Artikel Terkait