Pasar Potensial, RI Perlu Ekspor Langsung CPO ke Rusia
02 Juni 2012 Admin Website Artikel 301

LONDON. Indonesia sebagai penghasil kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) terbesar di dunia hingga saat ini belum bisa langsung mengekspor produk tersebut ke Rusia atau masih melalui negara ketiga sehingga menteri pertanian kedua negara menyatakan siap merealisasikan perdagangan langsung.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan antara Menteri Pertanian RI Suswono dan rekannya dari Rusia, Nikolai Fyodorov, di sela-sela Food Security Ministerial Meeting APEC di kota tengah Rusia, Kazan,  demikian disampaikan oleh Sekretaris Dua Fungsi Pensosbud KBRI Moskwa, Enjay Diana, kepada ANTARA London, Jumat (1/6/2012).

Menurut Suswono, minyak sawit merupakan komoditas yang sangat penting bagi perkembangan perekonomian Indonesia. Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan industri sawit dengan memperhatikan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Kelapa sawit adalah produk yang banyak dibutuhkan negara, termasuk di Rusia.

Minyak sawit telah menjadi komoditas utama yang diekspor Indonesia ke Rusia meskipun hanya 2 persen dari total volume ekspor minyak sawit Indonesia ke dunia pada tahun 2011. Ekspor minyak sawit ke Rusia pada tahun 2011 sebanyak 323.800 ton atau senilai 357,8 juta dollar AS. Pada tahun 2010, ekspor tercatat 250.000 ton atau senilai 222 juta dollar AS.

Suswono mengatakan bahwa Rusia adalah pasar potensial Indonesia. Dengan melihat tren positif ekspor minyak sawit ke Rusia dalam dua tahun terakhir, 400.000 ton ekspor pada tahun 2012 dapat tercapai. "Dan, alangkah indahnya kalau dapat dilakukan perdagangan langsung," kata Suswono.

Selain itu, Suswono didampingi Dubes di Moskow untuk Federasi Rusia Djauhari Oratmangun menyampaikan kepada Nikolai Fyodorov potensi buah-buahan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Rusia. "Indonesia memiliki berbagai jenis buah eksotis sebagai khas wilayah tropis, seperti salak, nanas, pepaya, dan mangga yang dapat dikirim ke Rusia," ujar Suswono.

Dalam pertemuan tersebut, Nikolai Fyodorov mengatakan terdapat peluang impor buah-buahan dari Indonesia.  "Setidaknya saya dan keluarga saya sangat menyukai mangga dan pepaya," ujar Nikolai Fyodorov.
     
Nikolai Fyodorov juga menekankan pentingnya meningkatkan kerja sama kedua negara untuk produk gandum dan perikanan.

Menteri Pertanian Republik Indonesia berada di Kazan untuk menghadiri Food Security Ministerial Meeting APEC, 30-31 Mei 2012.

Dalam sidang pleno, Suswono menyampaikan pandangan Indonesia mengenai pentingnya ketahanan pangan, seperti diversifikasi pangan lokal dari produk pangan lokal, serta peranan sumber pangan lokal dalam mendukung ketersediaan pangan nasional yang pengembangannya didukung melalui inovasi dan teknologi.

Selain itu, dia memandang penting peningkatan kerja sama antarnegara APEC dalam memperbaiki akses pangan dan menciptakan keseimbangan dalam distribusi pangan.

Menteri Pertanian Indonesia tersebut menyempatkan pula pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian Selandia Baru David Charter untuk membahas kerja sama kedua negara.

DIKUTIP DARI KOMPAS, JUM'AT, 1 JUNI 2012


Artikel Terkait