November, Bea Keluar CPO Diprediksi Masih 0%
28 Oktober 2014 Admin Website Berita Nasional 385
November, Bea Keluar CPO Diprediksi Masih 0%

JAKARTA. Komoditas kelapa sawit bukanlah satu-satunya komoditi yang berada pada posisi harga yang lesu, komoditas minyak nabati lainnya juga mengalami hal yang sama, seperti kedelai, rapeseed dan biji bunga matahari.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadhil Hasan mengatakan, melemahnya harga komoditi ini karena daya beli yang lemah dan produksi meningkat serta stok yang melimpah.

Dari sisi harga, harga rata-rata minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Rotterdam pada September 2014 bergerak di kisaran US$ 680 per metrik ton (MT)–US$ 730 per MT. Untuk rata-ratanya bergerak dikisaran US$ 712 per MT.

Harga rata-rata CPO bulan September tersebut turun sekitar 5,4% dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Agustus yang mencapai US$ 753 per MT. Harga harian CPO di pasar global (Cif Rotterdam) tercatat terus tergerus mulai pekan pertama hingga pekan ketiga Oktober ini, harga hanya bergerak di kisaran US$ 695- US$ 730 per metrik ton. "Sampai pada akhir bulan Oktober harga CPO diperkirakan masih akan stagnan," kata fadhil dalam siaran persnya, Selasa (21/10).

GAPKI memperkirakan harga CPO hingga akhir Oktober akan cenderung bergerak di kisaran harga US$ 700 per MT-US$ 730 per MT. Dengan kondisi ini maka BK CPO bulan November mendatang diproyeksi masih bebas atau 0%.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) sendiri sebelumnya memproyeksi harga CPO masih akan belum banyak bergerak naik dalam waktu dekat. Walhasil, BK CPO Indonesia berpotensi bebas sama seperti bulan Oktober ini.

Meskipun bebas BK, namun Kemendag mengharap kepada para pengusaha agar tidak jor-joran melakukan ekspor. Bila hal tersebut dilakukan, Bayu khawatir hal tersebut akan semakin menekan harga CPO. Seperti diketahui, serapan minyak sawit saat ini masih belum pulih, sehingga demand menurun.

Bagi pemerintah, pemanfaatan CPO untuk penyerapan di pasar lokal menjadi prioritas utama. Solusi yang cukup mempan dalam mengatasi persoalan harga ini menurut Bayu adalah penggunaan biofuel sebagai sumber energi di dalam negeri.

SUMBER : KONTAN, SELASA, 21OKTOBER 2014


Artikel Terkait