Minyak Sawit : Alasan Untuk Tetap Optimis
29 Juli 2009 Admin Website Artikel 300
#img1# Dua analis dari Rabobank International Asia Tenggara, Veiverne Yuen dan Wei Siang Chan yang memaparkan uraian mereka dalam "Asia Pacific Food Industry" mencoba melihatnya dari sisi prospek perkembangan permintaan. Mereka mencoba menganalisa posisi minyak sawit dalam lingkup minyak-minyak nabati dalam kaitan dengan posisi pengguna minyak sawit sebagai minyak masak maupun bagi industri makanan olahan.

Diutarakan bahwa koreksi terhadap harga di pasar internasional setahun belakangan ini utamanya dilatari oleh perkiraan melemahnya perekonomian dunia yang bisa menekan permintaan. Kecenderungan masyarakat investor menjual untuk menarik dana ikut pula mendorong pelemahan harga.

Selama tiga tahun berturut-turut sebelumnya harga meningkat didorong oleh trend peningkatan permintaan pasar raksasa seperti India dan China. Namun, dengan pelemahan perekonomian dunia yang kini sedang berlangsung, permintaan tidak hanya melemah di negara-negara pasar yang sudah mapan seperti Uni Eropa dan Amerika, tetapi juga di China dan India karena perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Namun demikian, kedua analis tersebut melihat bahwa dalam menghadapi keadaan demikian, minyak sawit memiliki keunggulan-keunggulan sehingga untuk jangka panjang prospeknya dipandang positif.

Mereka menilai peluang bagi minyak sawit tetap banyak karena akses terbuka pada industri hilir. Ini terutama karena minyak sawit dalam lingkungan minyak-minyak nabati utama masih tetap sebagai minyak yang paling murah biayanya. Banyak minyak sawit yang dibutuhkan untuk pembuatan minyak masak yang diperlukan rumah tangga dan minyak goreng untuk industri. Sehingga di tengah situasi perekonomian dunia yang melemah permintaan terhadap minyak sawit diharapkan masih bisa bertahan.

Posisi unggul lainnya bersumber pada kecenderungan konsumen di negara-negara berkembang belakangan ini yang telah mulai pula mampu beralih dari penggunaan lemak masak ke minyak masak karena selain lebih sehat juga lebih praktis dalam penggunaannya. Di sinipun, biaya yang lebih rendah dari produk hilir minyak sawit yang lebih murah memberinya posisi unggul untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar.

DIKUTIP DARI SINAR TANI, SELASA, 28 JULI 2009

Artikel Terkait