KIPI Maloy Masuk Program Prioritas Pusat
16 Mei 2012 Admin Website Artikel 302
SANGATTA. Pemprov sudah berkomitmen menjadikan Kalimantan Timur sebagai pusat agroindustri nasional, dengan mengembangkan pembangunan yang berbasis sumber daya alam terbarukan (renewable resources).
Terkait hal tersebut, dengan potensi lahan Kaltim yang sangat luas, Pemprov berupaya mengembangkan sektor pertanian dalam arti luas di kabupaten/kota dengan mengutamakan keunggulan komparatif masing-masing daerah.

Menteri Pertanian, H Suswono, memberikan apresiasi kepada Pemprov Kaltim yang berupaya mengubah strategi pembangunan dari yang saat ini berbasis sumber daya alam tidak terbarukan (unrenewable resources) menjadi berbasis sumber daya alam terbarukan (renewable resources).

"Basis pertanian itu menjadi penting dan kita punya potensi pertanian yang luar biasa. Mumpung belum terlambat, agar kita bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju di bidang pertanian," ucap Suswono, pada kesempatan kunjungan kerja ke Kutai Timur, Selasa (15/5).

Pada kesempatan itu, Menteri Pertanian bersama Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Syukur Iwantoro, yang didampingi Kepala Bappeda Kaltim Rusmadi, Kepala Dinas Peternakan Kaltim Ibrahim dan Kepala Dinas PU Kaltim HM Taufik Fauzi melakukan peninjauan ke lokasi pembangunan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy.

Menurut Suswono, sebagai salah satu proyek yang masuk dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), pekerjaan pembangunan KIPI Maloy memerlukan dukungan dari semua pihak, baik pusat dan daerah.

"Semangat dari gubernur serta bupati/walikota untuk mensukseskan program MP3EI di Kaltim sangat luar biasa, ditambah dengan konektivitas jalan antar daerah yang dikembangkan tentu akan menimbulkan multiplier effect bagi masyarakat," jelasnya.

Suswono menambahkan, MP3EI untuk koridor III wilayah Kalimantan merupakan satu koridor yang memiliki nilai investasi terbesar diantara sejumlah koridor yang telah ditetapkan. Dia menyebutkan sekitar Rp740 triliun nilai investasi di koridor III, yang terdiri dari 52 proyek berjalan dari 262 proyek yang tercatat.

"Mudah-mudahan komitmen ini bisa terwujud, dan jika dijalankan ditambah dengan adanya aktivitas ekonomi, maka akan terlihat dampak positifnya terhadap masyarakat Kaltim," tambah Suswono, yang juga selaku koordinator wilayah MP3EI koridor III Kalimantan.

Sebelumnya, Kepala Bappeda Kaltim, Rusmadi, menjelaskan KIPI Maloy saat ini memiliki ketersediaan lahan 5.305 hektar, yang terbagi menjadi dua wilayah, yakni 1.000 hektar di pelabuhan lama di Teluk Golok, dan sisanya di pelabuhan baru yang sedang dikerjakan.

"Kami meminta dukungan penuh dari pemerintah pusat untuk percepatan dan akselerasi pembangunan KIPI Maloy, khususnya dari Bapak Menteri Pertanian yang merupakan Korwil Koridor III Kalimantan untuk proyek MP3EI," jelasnya.

Dia menambahkan, perkebunan kelapa sawit di Kalimantan pada umumnya dan Kaltim pada khususnya sangat potensial, dan merupakan salah satu pendukung utama pengembangan KIPI Maloy pada tahun-tahun mendatang.

"Kawasan ini menjadi perhatian utama bagi para investor. Selain pengembangan KIPI Maloy, kawasan disekitarnya juga direncanakan akan dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yang sudah didukung dengan pembangunan infrastruktur dari investor di kawasan tersebut," tambahnya.

Selain meninjau lokasi pembangunan KIPI Maloy, rombongan juga melakukan kunjungan ke kawasan Peternakan Sapi Terpadu (Pesat) yang merupakan program corporate social responsibility (CSR) PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Desa Rantau Pulung, Kutai Timur.

Kunjungan tersebut juga diikuti oleh Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Herry Suhardiyanto, Bupati Kutai Timur, Isran Noor, beserta jajarannya dan CEO PT KPC, Endang Ruchijat. (her/hmsprov)

SUMBER : HUMAS PROV. KALTIM

Artikel Terkait