Kembangkan Komoditas Perkebunan Kaltim
20 Januari 2020 Admin Website Berita Daerah 98
Kembangkan Komoditas Perkebunan Kaltim

SAMARINDA. Kaltim memiliki 18 komoditas perkebunan. Terdiri dari 16 tanaman tahunan dan rempah penyegar. Sementara dua lainnya adalah tanaman semusim yakni nilam dan tebu. Dari 16 komoditi tanaman tahunan, lima di antaranya menjadi unggulan. Yaitu sawit, karet, lada, kakao, dan kelapa.

Komoditas ini tersebar di beberapa daerah di bumi Etam. Sawit menjadi komoditi dengan sebaran terbanyak. Ada di tujuh kabupaten/kota di Kaltim. Sementara karet tersebar di wilayah Kutai Barat, Paser, Berau, dan Kutim. Lada dan kakao banyak tumbuh di Berau. Sementara kelapa, sentra terbesarnya ada di Muara Jawa dan Samboja.

“Karet, lada, kakao, dan kelapa itu komoditi tradisional artinya dikelola masyarakat. Sementara sawit itu dikelola oleh tiga sektor, pemerintah, swasta, dan masyarakat,” jelas Bambang Fajrul Falah, kepala Bidang Pengembangan Komoditi Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim.

Disbun mengupayakan untuk terus mengembangkan komoditas perkebunan Kaltim. Baik luasan lahan, kualitas produksi dan harga jual untuk kesejahteraan petani.

“Kita didik dan berikan pelatihan kepada petani-petani kita supaya bisa mengolah hasil pertanian menjadi produk dengan harga jual tinggi,” katanya, Rabu (15/1) lalu.

Bambang menyebut, salah satunya adalah lada. Di Desa Pesayan Berau saat ini sudah dikembangkan produksi lada kemasan yang dijual dengan harga Rp 20 ribu per 20 gram. Jauh lebih menguntungkan dengan harga lada mentah yang hanya Rp 25 ribu per kilo gram.

Disbun juga sedang mengembangkan produk brand Lada Malonan. Malonan adalah anonim dari Muara Badak Loa Janan. Tempat lada pertama kali dikembangkan di Kaltim. Bambang menyebut, lada Kaltim memiliki kualitas terbaik dengan tingkat kepedasan mencapai 3,8 persen.

Sesuai dengan target Disbun Kaltim untuk mengembalikan kejayaan rempah. Mereka memprioritaskan tiga tanaman rempah, yaitu lada pala dan cengkeh (lapace).

Disbun juga bekerja sama dengan PT. Berau Coal dalam pemasaran produk kakao. Berau Coal membeli kakao fermentasi dari petani seharga Rp 27 ribu per kilogram. Lebih menguntungkan dari kakao gelondongan seharga Rp 22 ribu per kg. Bahkan saat ini, Berau Coal sedang tahap penjajakan ekspor ke Perancis.

Begitu juga dengan karet. Saat ini Kaltim memiliki pabrik industri karet milik PT Utama Kusuma Cemerlang di Palaran, Samarinda. Di sana, karet di beli seharga Rp 9.500/kg dari petani karet. Sebelumnya, karet hanya laku Rp 4.500 sampai Rp 5.000 ribu per kg.

Sementara untuk kelapa, Kaltim masih perlu mengembangkan komoditas ini. Pasalnya, untuk kebutuhan dalam daerah, Kaltim masih mengambil pasokan kelapa dari Sulawesi. “Kita masih harus mengembangkan produktivitas kelapa, karena untuk kebutuhan santan saja, kita masih ambil dari Sulawesi,” aku Bambang.

Bambang menyebut, ada 3.600 hektare perkebunan kelapa di Muara Jawa dan Samboja yang perlu diremajakan. Yaitu dilakukan penebangan karena usia tanaman yang sudah tidak produktif. Untuk diganti dengan tanaman baru. (krv/eny)

SUMBER : DISWAY KALTIM, 20 JANUARI 2020

 


Artikel Terkait