Kaltim Tuan Rumah 5th International Pepper Community (IPC)
16 Maret 2016 Admin Website Berita Kedinasan 389
Kaltim Tuan Rumah 5th International Pepper Community (IPC)

BALIKPAPAN. Kaltim terpilih sebagai tuan rumah pertemuan 5th International Pepper Community (IPC) yang dihadiri oleh enam negara penghasil lada dunia, diantaranya India, Sri Lanka, Vietnam, Indonesia, Malaysia dan Brasil.

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim, Hj. Etnawati mengatakan tujuan pertemuan ini adalah membahas tentang perkembangan lada sedunia, dalam kesempatan ini Indonesia menjadi lokasi pertemuan dan Kaltim tempat yang dipilih.

Pertemuan ini menurut Etnawati, selain membahas perkembangan lada, juga membahas permasalahan yang mempengaruhi serta solusinya dalam mempertahankan kualitas lada khususnya untuk di Kaltim.

"Kami berharap dengan adanya pertemuan ini, mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas lada di Indonesia agar mampu bersaing di pasar dunia, tentu melalui perhatian dan support dari pemerintah daerah," katanya.

Dijelaskan, ada beberapa lokasi yang sangat potensial untuk pengembangan lada di Kaltim, yakni Kutai Kartanegara (Kukar), Penajam Paser Utara (PPU) dan Berau.

Inilah yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, tentu dengan pengkajian dan pelatihan yang sudah dilakukan, salah satu contoh adalah pengembangan lada organik. "Kedepan kita akan menggunakan zat alami yang sifatnya nabati, guna pengendalian hama dengan tidak menggunakan pestisida dan sejenisnya," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) RI, Agus Wahyudi menjelaskan kegiatan ini fokus ke forum pembelajaran antar anggota negara di bidang rempah – rempah, khususnya lada. Tidak hanya itu, forum ini juga membahas teknik budidaya dan pengendalian hama penyakit sehingga dapat meningkatkan produksi lada menjadi dua kali lipat.

"Beberapa hal tersebut yang perlu dipelajari di Kaltim, termasuk cara membasmi hama dan penyakit dengan bahan yang aman dan ramah lingkungan," terangnya.

Agus menjelaskan, saat ini lada Kaltim termasuk baik, karena sejak lima tahun terakhir harga lada Kaltim mencapai Rp150 ribu hingga Rp180 ribuper kilogram. Sedangkan lada hitam dari harga Rp120 ribu sampai Rp140 ribu per kilogram,

Salah satu tujuan mengapa kaltim yang dipilih, karena merupakan salah satu daerah penghasil lada putih di Indonesia. Selanjutnya, ada beberapa daerah di Indonesia yang akan menyusul diantaranya, Bangka Belitung dan Kalbar.

Program kedepan yang akan dilakukan untuk meningkatkan eksistensi lada di kaltim dengan melakukan suatu rancangan, pembinaan dan pendampingan teknologi kepada seluruh petani lada di kaltim. Selain itu, menerjunkan langsung tenaga teknis ke lapangan perlu dilakukan. (rey/disbun)

SUMBER : SEKRETARIAT


Artikel Terkait