Dukung Program Sejuta Hektare Sawit di Kaltim
24 Maret 2008 Admin Website Artikel 363
Di bagian lain Syaiful menjelaskan bahwa tentang Marihat yang tercatat sebagai penghasil benih kelapa sawit terbesar di era tahun 1980- an hingga 1990 an. Varietas unggul yang dihasilkan antara lain DP Bah Jambi, DP La Me, DP AVROS, DP Yangambi, DP Marihat, DP Dolok Sinumbah. Pemimpin Marihat ketika itu melihat bahwa ketersediaan bahan tanaman unggul sangat vital dan diperlukan untuk menunjang perluasan areal kelapa sawit di Indonesia.

Disisi lain benih unggul juga memiliki potensi sebagai salah satu sumber pendapatan. Marihat melakukan ekspansi dengan membuka kebun induk baru di Parindu, Sanggau, Kalimantan Barat sebagai tambahan terhadap kebun induk yang telah ada di Bah Jambi dan Dolok Sinumbah, Simalungun, Sumatera Utara. Bahkan mendukung suksesnya program sejuta hektare sawit di Kaltim.

Potensi penyediaan bahan tanaman unggul kelapa sawit dalam jumlah besar, maka pada tahun 1984 PP Marihat membangun laboratorium Kultur Jaringan kelapa sawit yang cukup besar untuk memproduksi klon unggul sebagai dukungan terhadap produksi benih unggul yang telah ada. PPM menjalin kerjasama dan mengadopsi teknologi kultur jaringan dari CIRAD-CP Perancis. Berbagai percobaan uji klon telah dilakukan.

Hasil yang diperoleh ternyata klon menghasilkan TBS 20-30% lebih tinggi dari tanaman asal biji. Harus diakui juga bahwa pada tahap awal dijumpai gejala abnormalitas pembungaan dan pembuahan pada tanaman klon khususnya klon yang diperoleh dari kalus pada fase tertier atau fast growing callus. Karena kontribusinya yang besar itulah maka nama Marihat terkenal ke seantero Indonesia. Bahkan setelah konsolidasi menjadi PPKS nama Marihat tetap dikenal masyarakat. Suatu keban

Dalam usaha meningkatkan produksi kelapa sawit, khususnya tandan buah segar, maka PPM telah melakukan terobosan yang spektakuler yaitu dengan mengintroduksikan kumbang penyerbuk kelapa sawit Elaeidobius kamerunicus pada 1980 an. Setelah introduksi serangga tersebut, maka kebun-kebun kelapa sawit tidak lagi melakukan assisted pollination untuk pembuahan. Berdampak positif karena mengurangi biaya produksi. Ledakan produksi tercatat di berbagai kebun akibat bantuan serangga penyerbuk tersebut sebagai akibat pembentukan buah (fruitset) menjadi lebih sempurna.

Tandan buah yang kompak dan padat tersebut telah menyebabkan perlunya perbaikan pada sistem perebusan di PKS. Namun hal ini cepat dapat diatasi. Kini Elaeidobius kamerunicus sudah ada dimana-mana dan menjadi mitra pekebun, tanpa menimbulkan masalah namun membantu memecahkan masalah pembuahan.

Untuk menunjang sumber pendapatan utama sebagai penghasil benih unggul, PPM membuka sub-station baru di Dalu-Dalu dan Kalianta, Provinsi Riau. Di kedua sub-station ini PPM melakukan penanaman kelapa sawit secara komersial.

Hingga saat ini kebun tersebut tetap memberikan kontribusi terhadap sumber pendapatan PPKS. Paket teknologi pemupukan tanaman yang efisien, pemberantasan hama yang efisien dan aman melalui infus akar. Teknik ini telah diaplikasian secara luas di Indonesia maupun di luar negeri seperti Malaysia, Philippina dan Amerika Latin. Penggunaan kayu kelapa untuk bangunan telah disosialisasikan dan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SENIN, 24 MARET 2008

Artikel Terkait