Dorong Kemandirian Petani, Mudah Dapat Bibit Unggul
07 April 2011 Admin Website Artikel 267
TENGGARONG - Untuk mendukung suksesnya usaha perkebunan, salah satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah bibit unggul. Bibit tanaman yang palsu (tidak unggul) akan mengurangi pendapatan, karena produksinya rendah. Yaitu hanya 60 persen. Karena itu, sejak 2008 hingga 2010 Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) melalui Dinas Perkebunan (Disbun) telah melaksanakan kegiatan pembibitan kelapa sawit dan karet pola home industry (industri rumahan). Kegiatan itu, juga rencananya akan diteruskan tahun ini.

Kepala Disbun Kukar, Hairil Anwar melalui Kepala Seksi Pemanfaatan Lahan, Miswan mengatakan, kegiatan tersebut dilaksanakan 56 kelompok tani yang tersebar di 17 kecamatan. Dijelaskakannya, kegiatan pembibitan pola home industri tersebut dilaksanakan kelompok tani mulai dari penyiapan lahan, pengisian polybag kecil, penanaman kecambah (pre nursery), pemindahan bibit ke polybag utama (main nursery), pemeliharaan, pengendalian hama penyakit dan gulma serta penyaluran ke anggota kelompok tani.

Pihak Disbun dalam hal ini memfasilitasi sarana dan prasarana produksi berupa kecambah kelapa sawit unggulan bersertifikat, OMT karet, polybag, pupuk, pestisida, fungisida, herbisida, hand sprayer, mesin pompa air dan perlengkapan lainnya serta biaya swakelola pelaksanaan pembibitan.

Proses pembibitan  mulai awal hingga akhir terus dipantau oleh Disbun Kukar dengan memberikan bimbingan teknis kepada kelmpok tani. "Dengan dilaksanakannya rangkaian pembibitan mulai penyiapan lahan sampai pada bibit siap salur, diharapkan petani bisa memahami teknis penyediaan bahan tanaman yang benar serta memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pembibitan yang dilaksanakan," paparnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (6/4). Dikatakannya dengan program tersebut, memberi manfaat untuk mendorong peningkatan dan pengembangan pemberdayaan kelembagaan petani dan meningkatan sumberdaya manusia menuju kemandirian.

Selain itu juga memudahkan petani untuk memperoleh bibit unggul bermutu bersertifikat dengan biaya relatif renda, dan tentu saja menekan penggunaan bibit tidak unggul.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, KAMIS, 7 APRIL 2011

Artikel Terkait