(0541)736852    (0541)748382    disbun@kaltimprov.go.id

Disbun Siapkan Webinar BINGKA, Kupas Potensi Kopi Liberika

19 September 2025 Afif Berita Daerah 437
Disbun Siapkan Webinar BINGKA, Kupas Potensi Kopi Liberika

SAMARINDA. Kopi tak hanya sekadar minuman penyemangat, tetapi juga bagian dari budaya dan potensi ekonomi daerah. Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim) bersama Forum Komunikasi Perkebunan Berkelanjutan (FKPB) menggelar Rapat Persiapan Webinar BINGKA (Bincang Komoditas Perkebunan Lestari) Seri ke-9 bertema “Menggali Potensi Pengembangan Kopi Liberika di Kalimantan Timur sebagai Komoditas Unggulan dan Agrowisata”, Jumat (19/9/2025).

Bertempat di Ruang Rapat Hevea, Kantor Disbun Kaltim, agenda ini menjadi langkah awal membangun strategi bersama untuk mengangkat kopi liberika sebagai komoditas khas yang mampu bersaing sekaligus menjadi daya tarik agrowisata daerah.

Rapat dipimpin oleh Plt. Kepala Dinas Perkebunan yang diwakili Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran, Taufiq Kurrahman, dan dihadiri Dewan Pakar FKPB, GAPKI, Ketua Perkumpulan Pengusaha Pangan Kuliner Nusantara Kaltim, serta jajaran Pejabat Eselon III di lingkungan Disbun Kaltim.

Dalam arahannya, Taufiq menegaskan bahwa kopi merupakan salah satu minuman paling populer di dunia, dengan ragam varian penyajian mulai dari kopi hitam, kopi susu, hingga espresso dan cappuccino. Menurutnya, cita rasa kopi sangat dipengaruhi oleh asal biji, teknik pemanggangan, serta metode penyeduhan.

“Proses produksi kopi dimulai dari pemilihan biji, yang umumnya berasal dari pohon kopi Arabika, Robusta, dan Liberika. Selain memiliki rasa yang khas, kopi juga dikenal dengan kandungan kafein yang mampu memberikan efek menyegarkan,” ujarnya.

Taufiq menambahkan, kopi liberika adalah salah satu varietas unik yang potensinya belum banyak tergali, namun sesungguhnya dapat menjadi nilai tambah besar bagi Kaltim.

Ketua Harian FKPB Kaltim, Yus Alwi Rahman, turut menekankan bahwa kopi bukan sekadar minuman, tetapi juga bagian dari budaya sosial. Ia mencontohkan tradisi ngopi yang menjadi ruang interaksi masyarakat di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Timur.

“Budaya kopi kini semakin berkembang, terlihat dari banyaknya kedai kopi dengan barista tersertifikasi yang menghadirkan pengalaman berbeda bagi para penikmatnya. Sayangnya, pertumbuhan budaya kopi di Kaltim tidak sebanding dengan produksi lokal, yang masih tertinggal dari sisi kuantitas maupun kualitas,” ungkap Yus Alwi.

Yus Alwi menilai, perkembangan kedai kopi yang kian marak justru membuka peluang bagi hadirnya kopi liberika sebagai identitas baru daerah, apalagi cita rasanya yang unik mulai diminati oleh segmen pasar khusus.

Kalimantan Timur sendiri memiliki lahan potensial di wilayah Kutai Kartanegara, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu untuk pengembangan kopi liberika. Tanaman ini dinilai adaptif terhadap lahan marginal, tahan terhadap kondisi iklim tropis basah, serta menghasilkan aroma khas yang berbeda dari Arabika maupun Robusta.

Meski begitu, tantangan besar masih menghadang, mulai dari ketersediaan benih unggul, akses pasar yang terbatas, minimnya fasilitas pascapanen, hingga dukungan kebijakan daerah yang belum sepenuhnya optimal.

Melalui Webinar BINGKA Seri ke-9, Disbun Kaltim dan FKPB berupaya merumuskan strategi komprehensif dalam menjawab tantangan tersebut sekaligus mendorong sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan petani.

Tujuan kegiatan ini untuk mengidentifikasi potensi dan tantangan pengembangan kopi liberika di Kaltim, menyusun strategi penguatan komoditas berbasis ekonomi hijau, serta menyiapkan bahan untuk peta jalan (roadmap) kopi liberika sebagai komoditas unggulan daerah.

Diharapkan, hasil yang dicapai mencakup teridentifikasinya wilayah prioritas dan model bisnis kopi liberika, terbentuknya jejaring kemitraan antara pemerintah dan pelaku usaha, hingga tersusunnya peta jalan pengembangan kopi liberika sebagai bagian dari pembangunan ekonomi berkelanjutan.

“Kami berharap webinar ini menjadi titik awal penguatan ekosistem kopi liberika di Kalimantan Timur dengan pendekatan kolaboratif, agar kopi tidak hanya dikenal sebagai gaya hidup, tetapi juga menjadi komoditas unggulan yang menyejahterakan petani dan membuka peluang agrowisata baru,” pungkas Taufiq. (fif/disbun)

SUMBER : SEKRETARIAT

Artikel Terkait