CPO Berpotensi Gantikan Batu Bara dan Migas
29 Agustus 2014 Admin Website Berita Daerah 315
CPO Berpotensi Gantikan Batu Bara dan Migas
SAMARINDA. Kaltim masih berada di bawah daerah tetangga, yakni Kalteng dan Kalbar. Namun demikian pertumbuhan produksi CPO dalam kurun 4 tahun terakhir mencapai 23,74 persen (nasional 9,53 persen). Sementara tahun lalu mencapai 1,25 juta ton dengan share 4,5 persen terhadap nasional. Kalah dengan daerah tetangga, infrastruktur menjadi kambing hitam yang menghambat maksimalisasi CPO.

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Etnawati Usman pun mengakui bila produksi CPO di Benua Etam belum maksimal. Pasalnya, saat ini Pemprov Kaltim sedang membangun Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy di Kutai Timur dalam meningkatkan hilirisasi CPO. "Tak heran Kutim dijadikan sebagai kawasan industri," ucapnya.

Data Dinas Perkebunan, luas wilayah Kutim yang terpakai untuk kelapa sawit lebih tinggi dibanding daerah lain. Wajar bila, dari total 58 pabrik di seluruh Kaltim, 20 pabrik berasal dari Kutim sementara dari lainnya seperti, Paser ada 14 pabrik pengolahan, lalu Kutai Kartanegara ada 9 pabrik

Saat ini, kata dia, Kaltim sangat bergantung dengan sumber daya alam yang berbasis tidak dapat diperbaharui seperti batu bara, minyak, dan gas.
"Transformasi sektor yang berbasis tidak terbarukan menjadi terbarukan sedang dilakukan oleh pemerintahan provinsi," paparnya.

Hingga saat ini, 344 izin sudah dikeluarkan 11 kabupaten/kota di Kaltim. Namun baru 132 perusahaan yang memiliki legalitas hak guna usahanya (HGU). Namun kini pemerintah provinsi telah melakukan moratorium, menunda pemberian izin perkebunan kelapa sawit baru. Bertujuan untuk memaksimalkan izin yang sudah diberikan kepada perusahaan.

"Banyak perusahaan belum mengelola lahan secara maksimal. Terlebih, Kementerian Kehutanan RI telah mengeluarkan peraturan tentang pembatasan penggunaan lahan gambut dan hutan," jelasnya.

Adapun komoditas lain sektor perkebunan unggulan Kaltim karet, kakao, lada, kelapa, dan kelapa sawit. Tanpa mengesampingkan komoditas lain, saat ini permintaan kelapa sawit sangat tinggi.

Menurut Etnawati, kelapa sawit bukan hanya sebagai sumber minyak nabati, bahkan Singapura dan Korea mencari limbah cair dan padatnya sebagai tenaga listrik dan bahan organik. Limbah dari kernel konon kalorinya lebih tinggi dibanding batu bara karena cangkangnya keras sekali.

"Kami juga sangat taat pada asas kelestarian lingkungan, setiap perusahaan harus memiliki ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Dari sisi limbah kepala sawit termasuk zero waste," sebutnya.

Sementara itu Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Azmal Ridwan mengatakan, peluang kelapa sawit tak perlu diragukan. Mulai dari ketersediaan lahan hingga kesesuaian lahan, walaupun Kaltim tak cocok menjadi yang utama dari segi lahan. "Walaupun tak menjadi nomor satu, tetap cocok untuk ditanami kelapa sawit," kata dia.

Kelapa sawit, lanjutnya, merupakan komoditas perkebunan yang sangat berpotensi menggantikan peran migas dan batu bara. Dengan segala produk turunan dari CPO (crude palm oil) seperti industri sabun (bahan penghasil busa), industri baja (bahan pelumas), industri tekstil, kosmetik, serta minyak goreng, dan margarin.

CPO juga dapat diolah untuk industri oleokimia, seperti methyl ester, asam lemak (fatty acid), dan gliserin (glycerine).

Bahkan saat ini produk CPO juga bisa digunakan untuk bahan bakar alternatif (biodiesel). Untuk itu, lanjut dia, konsep pembangunan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy yang berbasis pertanian dan oleokimia merupakan harapan dari seluruh pengusaha sawit di Kaltim bahkan di Kalimantan.

Karena selama ini CPO dikirim ke Belawan-Sumatra Utara dan Dumai-Riau. Hal itu membutuhkan biaya dan waktu lama. Dan apabila pelabuhan Maloy yang akan dijadikan outlet CPO di Kaltim sudah beroperasi, ditambah dengan pabrik-pabrik hilirisasi produk CPO yang terintegrasi pada kawasan industri, maka tidak hanya bisa memangkas biaya dan waktu tetapi juga produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah. Maloy merupakan kebutuhan utama bagi pengusaha kepala sawit. Yang akan menjadi outlet CPO bukan hanya untuk Kaltim, tetapi juga untuk Kalimantan dan sekitarnya.

"Kami (GAPKI) siap berpartisipasi di dalamnya. Tidak hanya secara dukungan, untuk finansial sekalipun kami siap," tegasnya (*/hsw/*/ypl/lhl/k15)

DIKUTIP DARI KALTIM POST, RABU, 27 AGUSTUS 2014

Artikel Terkait