Cegah OPT Sejak Dini, UPTD P2TP Disbun Kaltim Gelar Pelatihan di Kukar

KUTAI KARTANEGARA. Upaya memperkuat perlindungan tanaman perkebunan di Kalimantan Timur terus digencarkan. Hal ini ditandai dengan pelaksanaan Pelatihan Perbanyakan Agens Pengendali Hayati oleh UPTD Pengembangan Perlindungan Tanaman Perkebunan (P2TP) Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim) di Kantor UPT Penyuluhan dan Pengembangan Perkebunan Rakyat Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (9/9/2025).
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mendorong penerapan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) yang ramah lingkungan di tingkat lapangan.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala UPTD P2TP, Ruspiansyah, mewakili Plt. Kepala Disbun Kaltim. Dalam sambutannya, Ruspiansyah menyampaikan pentingnya pemahaman petugas lapangan mengenai teknologi pengendalian hayati sebagai solusi berkelanjutan menghadapi ancaman OPT pada komoditas perkebunan.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap petugas tidak hanya mampu memahami teori, tetapi juga bisa langsung mempraktikkan teknik perbanyakan agens hayati seperti trichoderma untuk mencegah serangan OPT sejak dini,” ujarnya.
Ruspiansyah menambahkan, penerapan metode ramah lingkungan ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga ekosistem perkebunan yang sehat dan produktif.
Kegiatan yang diikuti 30 peserta ini melibatkan Petugas Brigade Proteksi Tanaman Perkebunan Disbun Kutai Kartanegara serta Regu Pengendali OPT Kecamatan Kembang Janggut.
Hadir pula Camat Kembang Janggut, Suhartono, beserta petugas pendamping dari Disbun Kukar dan UPTD P2TP Disbun Kaltim. Kehadiran mereka menunjukkan sinergi lintas instansi dalam mendukung penerapan teknologi pengendalian hayati di daerah.
Materi pelatihan dibawakan langsung oleh Akhyar Roelan, dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, yang dikenal sebagai pakar dalam bidang perlindungan tanaman.
Akhyar menyampaikan bahwa penggunaan agens hayati tidak hanya efektif dalam jangka panjang, tetapi juga dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia yang berpotensi merusak lingkungan.
Hasil nyata dari pelatihan ini adalah kemampuan peserta dalam membuat starter jamur trichoderma, yang berfungsi sebagai agens pengendali hayati untuk menekan perkembangan berbagai jenis OPT pada tanaman perkebunan.
Dengan adanya bekal keterampilan ini, petugas lapangan diharapkan mampu menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menerapkan teknologi ramah lingkungan di wilayah kerjanya masing-masing.
“Kami berharap para peserta bisa menjadi pionir sekaligus penggerak bagi petani dalam menerapkan pengendalian hayati, sehingga produktivitas perkebunan tetap terjaga tanpa mengorbankan keseimbangan lingkungan,” tutup Ruspiansyah dengan optimisme. (fif/disbun)
SUMBER : SEKRETARIAT