Wah, Butuh 36 Tahun untuk Samai Thailand
29 Agustus 2009 Admin Website Artikel 328
#img2# Hal ini disebabkan karena tingkat pertumbuhan penggunaan bibit okulasi pada karet rakyat baru mencapai 50.000 hektar per tahun. Dari total perkebunan karet rakyat di Indonesia yang mencapai 2,8 juta hektar, lebih dari separuhnya masih menggunakan bibit dari biji karet.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Karet Chairil Anwar saat dihubungi dari Medan, Jumat (28/8), produktivitas karet rakyat di Indonesia baru mencapai 1 ton per hektar, masih jauh lebih rendah dibanding karet rakyat Thailand yang mencapai 1,6 ton per hektar. Bahkan, masih di bawah produktivitas karet rakyat Malaysia yang mencapai 1,2 ton per hektar.

Chairil mengungkapkan, pemakaian bibit okulasi pada kebun karet rakyat di Indonesia masih sangat sedikit. Pertumbuhan pemakaian bibit okulasi pada karet rakyat, kata Chairil, hanya 50.000 hektar per tahun. Dari total luas kebun karet rakyat di Indonesia yang mencapai 2,8 juta hektar, kurang dari separuhnya yang menggunakan bibit okulasi.

"Selebihnya hanya menggunakan biji karet biasa. Kalau melihat pertumbuhan penggunaan bibit okulasi pada kebun karet rakyat, produktivitas karet rakyat di Indonesia baru bisa menyamai produktivitas karet rakyat di Thailand dalam 36 tahun lagi," kata Chairil.

Belum lagi, kata Chairil, produksi bibit okulasi setiap tahunnya hanya cukup memenuhi pertumbuhan penggunaannya, yang 50.000 hektar per tahunnya. "Produksi bibit okulasi dari para penangkar baru mencapai 30 juta hingga 40 juta per tahun. Satu hektar kebun membutuhkan sekitar 500-600 bibit," kata Chairil.

Selama ini rendahnya penggunaan bibit okulasi pada kebun karet rakyat, menurut Chairil, karena daya beli petani masih rendah. Penggunaan bibit okulasi pada karet petani biasanya menunjukkan peningkatan ketika harga karet alam di pasar internasional cukup tinggi. "Rendahnya pemakaian bibit okulasi ini karena petani enggak sanggup beli. Di sisi lain, dukungan pemerintah untuk pengadaan bibit okulasi pada petani juga masih kurang," ujar Chairil.

Menurut dia, sebenarnya Pusat Penelitian Karet telah mendorong pemerintah untuk mengadakan program pengembangan kawasan perkebunan karet di Indonesia agar tingkat produktivitas karet rakyat semakin tinggi. "Program revitalisasi perkebunan yang sekarang ini ada sebaiknya diarahkan pada pengembangan kawasan perkebunan, terutama untuk mendukung pemerataan penggunaan bibit okulasi di kawasan tersebut," katanya.

Rendahnya penggunaan bibit okulasi juga diakui oleh Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah. Menurut Edy, meski tak tahu luas pastinya, hampir dipastikan lebih banyak petani menggunakan biji karet sebagai benih dibandingkan bibit okulasi. "Sudah jelas karet rakyat di Sumut ini lebih banyak menggunakan biji dibanding bibit okulasi," katanya.

Dia mengatakan, keprihatinan terhadap rendahnya produktivitas karet rakyat tersebut membuat Gapkindo Sumut hampir setiap tahun menyumbang 500.000 benih okulasi untuk petani karet. Kami sadar dengan produktivitas yang masih pas-pasan, perusahaan karet berebut membeli karet rakyat dari petani.

"Kami tak ingin terjadi persaingan yang tak sehat, sehingga pilihannya adalah mengusahakan pasokan karet dari petani tetap ada, dengan memberikan bantuan bibit okulasi," kata Eddy.

DIKUTIP DARI KOMPAS, JUMAT, 28 AGUSTUS 2009

Artikel Terkait