Sarman, Petani yang Giat Kembangkan Kebun Aren
03 Maret 2008 Admin Website Artikel 338
BERAWAL dari coba-coba, bibit aren yang ia datangkan dari Sulawesi Selatan, tepatnya di Enrekang, ternyata tumbuh subur di kebunnya di Mambunut, Nunukan Selatan.

Tidak "seegois" kelapa sawit, aren bisa tumbuh berdampingan dengan tumbuhan lainnya dan tidak terlalu banyak membutuhkan air. Bahkan dengan kekuatan akar pohonnya, kabarnya, aren bisa mencegah longsor.

Ditemui bersama istri dan dua anaknya di pondok kebunnya kemarin, ia menuturkan, dari 18 pohon aren miliknya, hanya 9 pohon yang berproduksi saat ini, setelah 6 tahun tumbuh. Dalam sehari, aren bisa disadap sebanyak dua kali atau setiap 12 jam sekali.

Proses penyadapan pun tergolong mudah, ia hanya membutuhkan wadah tempat nira, plastik pembungkus yang melindungi wadah dari hujan dan pisau untuk menyayat tandannya. Produksi aren juga tergantung kesuburan pohon, paling cepat satu minggu dan paling lama 6 bulan.

Dalam sehari, air sadapan (nira) yang dihasilkan paling banyak 40 liter per pohon. Bahkan setahun terakhir, ia menghasilkan 30-35 botol nira per hari. Dan setiap hari, pagi dan sore, ada saja pembeli yang menyambanginya. "Satu botol atau satu liter nira, saya jual Rp 4 ribu. Tapi pembeli menjualnya kembali seharga Rp 8-10 ribu," ungkap pria 6 anak yang tinggal di Kampung Baru ini.

Mahalnya pembeli menjual kembali nira tersebut, karena nira diolah lagi menjadi tuak. Hanya dengan memasukkan kulit langsat atau kulit batang ketapi kedalam nira dan diendapkan selama beberapa jam, nira yang awalnya manis berubah rasa menjadi agak pahit.

Pohon aren memang memiliki banyak manfaat. Nira yang dibiarkan begitu saja selama 12 jam, akan berubah menjadi asam dan berfungsi sebagai cuka. Buah aren dari pohon betina yang direbus, dapat diolah menjadi kolang-kaling.

Sedangkan serabut kasar yang ada disekitar tandan, dapat dibuat ijuk. Tulang daun aren menjadi sapu lidi dan di dalam pohon aren ada sagu yang bisa dikonsumsi. Bahkan, jika setengah sampai satu gelas nira diminum setiap pagi, berkhasiat membuat nafas segar, memperlancar buang air kecil, mengatasi penyakit diabetes dan ginjal.

Ia mengatakan, saat aren yang disadap mengeluarkan nira berlebihan, biasanya ia dan istrinya merebusnya kurang lebih 5-6 jam dan sebagai sentuhan terakhir diberi kemiri agar lebih kental dan kemudian dicetak, akan menjadi gula merah. "Hal ini terlintas, saat para pengecer tidak sanggup lagi memasarkan nira atau tuak," katanya.

Gula merah inilah yang rencananya akan dikembangkan dan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Kabupaten Nunukan menyambut baik rencana tersebut. Ketua Dekopin Ir Dian Kusumanto mengatakan, jika petani aren mau mengembangkannya, Dekopin siap membantu. "Hasil produksi akan dihimpun dan Dekopin yang membuat industri gulanya, dibantu petani aren tersebut," jelasnya.

Dari keterangan petani tersebut, 30 liter nira dapat diolah menjadi 7 kilogram gula merah. "Jika dalam 1 hektare ada 200 pohon dan yang produktif 100 pohon, yang masing-masing menghasilkan 10 liter nira, maka dapat menghasilkan gula merah sekitar 72 ton per hektare per tahun," terang Ketua Dekopin.

Inilah yang sekarang sedang ingin dikembangkan para petani aren. Selain menambah fungsi satu tumbuhan, juga meningkatkan perekonomian mereka sendiri.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SENIN, 3 MARET 2008

Artikel Terkait