RI Layangkan Protes ke Bank Dunia Soal Isu Sawit
03 Desember 2010 Admin Website Artikel 298

Nusa Dua - Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar mengatakan sudah melayangkan surat protes  ke Bank Dunia dan International Finance Corporation (IFC) terkait draft The World Bank Group’s Framework for Engagement in The Palm Oil.

Kerangka kerja atau framework hasil karya Bank Dunia yang menjadi acuan umum, dinilai tak berimbang dan tak mencerminkan hasil dari sebuah lembaga keuangan dan pembangunan global, terutama dalam persyaratan pinjaman sektor sawit.

"Ini yang kita sampaikan melalui surat kami ke IFC dan World Bank," kata Mahendra di dalam acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) di Nusa Dua Bali, Kamis (2/11/2010).

Seharusnya, kata dia, sebagai lembaga keuangan dan pembangunan, Bank Dunia jangan bersikap tak berimbang dengan hanya melihat aspek lingkungan namun melupakan melihat aspek sosial dan ekonomi.

Kerangka kerja itu seharusnya bisa membuat negara-negara anggotanya berkembang,  bukan memberlakukan persyaratan-persyaratan yang menghalangi kemajuan negara anggotanya.

"Berdasarkan draft yang telah diperbarui, dalam draft itu kurang berimbang," katanya.

Mahendra menambahkan, konsen Indonesia bukan masalah akan mempersulit memperoleh pendanaan dari Bank Dunia kepada sektor sawit, namun dikhawatirkan kerangka kerja yang telah dibuat oleh Bank Dunia akan diikuti oleh lembaga-lembaga lainnya.

Padahal kenyataanya selama 10 tahun terakhir sektor sawit di Indonesia sudah kuat dan tak terlalu membutuhkan pinjaman World Bank khususnya IFC.

"Karena ini lembaga internasional, standar yang ditetapkan akan menjadi acuan lembaga lain. Maka akan membawa pada risiko, padahal belum tentu kita memerlukan dana," katanya.

Seperti diketahui dalam draft The World Bank Group’s Framework for Engagement in The Palm Oil yang disusun oleh Bank Dunia tersebut, World Bank menyusun ulang strategi peminjaman sektor kelapa sawit berdasarkan data-data terkait adanya tudingan kelapa sawit sebagai penyebab deforestasi, emisi karbon dan hilangnya keanekaragaman hayati.

DIKUTIP DARI DETIK ONLINE, KAMIS, 2 DESEMBER 2010 


Artikel Terkait