Potensi Sawit Masih Primadona
26 April 2014 Admin Website Berita Daerah 387
Potensi Sawit Masih Primadona
SAMARINDA. Sawit dengan segala pro dan kontranya ternyata masih jadi primadona untuk sektor perkebunan di Kaltim. Berhasil mencapai 1 juta hektare (ha), lima tahun berjalan ini Pemprov Kaltim menargetkan 1,4 juta ha pembukaan lahan sawit baru. Impiannya, bukan hanya memasok minyak sawit tapi juga bisa memproduksi biofuel. Kemudian pada saat bersamaan, menargetkan 2 juta ekor sapi.

Menurut M Firdaus dari Institut Pertanian Bogor (IPB), sawit punya daya saing ekonomi tinggi. Ini dipaparkan di Rapat Koordinasi Pembangunan Perkebunan (Rakorbun) di Lamin Etam, Kamis (24/4) pagi.

Firdaus memperlihatkan fakta permintaan pasar ekonomi global. Guru besar IPB ini membeberkan fakta bahwa permintaan minyak sawit sangat tinggi dibanding jenis minyak lain.

Menukil data dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), permintaan minyak sawit bersaing dengan minyak kedelai. Pada 2010 permintaan pasar minyak kelapa sawit menempati posisi pertama (selengkapnya lihat infografis).

Kabar baiknya lagi, Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Indonesia memasok 50 persen produksi minyak sawit sementara Malaysia hanya 38 persen. Sisanya diisi Thailand, Nigeria, Kolombia, dan lainnya. Posisi Kaltim di garis terdepan produksi sawit. Pasar ini menjadi peluang  besar produksi sawit bagi Kaltim.

"Sawit banyak diserang isu-isu lain ketimbang kenyataan produksinya. Misalnya penelitian minyak sawit penyebab kanker, padahal tidak jelas hasil penelitiannya," ujar Firdaus.

Belum lagi isu sawit dinilai kurang berdaya saing ekonomi kerakyatan. Padahal, lanjutnya, tidak hanya sawit, semua komoditas perkebunan memiliki nilai ekonomi kesejahteraan lima kali lipat dari sektor pertanian. Fakta lain, penguasaan lahan perkebunan sawit lebih besar di lahan perkebunan rakyat. Dari sawit tidak hanya minyaknya, limbah sawit pun bisa dimanfaatkan untuk biodiesel.

Selain itu, produksi minyak sawit dibanding minyak kedelai jauh lebih gampang. "Minyak kedelai memerlukan lahan jauh lebih luas dibanding sawit," terangnya. Angka perbandingannya, untuk produksi 30 persen minyak sawit perlu lahan 5 persen. Sedangkan 21 persen produksi minyak kedelai memerlukan 40,7 persen luasan lahan produksi.

Sementara itu, Etnawati Usman, kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim menuturkan, target 1,4 juta ha itu sudah diperhitungkan. Jadi dia menjamin bukan hanya isapan jempol. "Kami hitung berdasarkan izin-izin per kabupaten," ujarnya.

Target produksi sawit Kaltim ini, jelasnya, juga untuk menyambut Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy.

Etna mengatakan, konsentrasi produksi akan ditingkatkan di Kutai Timur, Kutai Barat, dan Berau. "Maunya nanti sawit ini juga terintegrasi dengan sapi. Apalagi ada target 2 juta ekor sapi," terangnya.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, JUMAT, 25 APRIL 2014

Artikel Terkait