Petani Terkendala Pupuk
02 November 2010 Admin Website Artikel 289
PENAJAM - Akhir-akhir ini kebun kelapa sawit milik rakyat di Penajam Paser Utara cenderung megalami penurunan produksi buah lantaran kurangnya volume pupuk yang harus diberikan pada tanaman sawit. Hal ini diungkapkan Sugianto Sawit, salah satu warga petani sawit beralamat di RT 23 Desa Girimukti, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara,  kemarin.
 
Menurutnya, 85 persen produksi buah kelapa sawit itu tergantung pada pemupukan, pupuk yang mencukupi kebutuhan bagi tiap-tiap pohon sawit akan menghasilkan tandan buah segar (TBS) yang besar, demikian sebaliknya bila kekurangan pupuk akan terjadi penurunan produksi TBS.
“Biasanya dalam memanen sawit yang dihasilkan kebun sawit kami mencapai 30-40 kilogram per tandan, karena dalam tenggang waktu pemeliharaan sebelum masa panen selalu memberikan pupuk yang cukup, dan pupuk yang dipergunakan adalah pupuk buah yaitu pupuk KCL. Sementara pupuk KCL saat ini terbilang langka, meski ada dijual di kios-kios harganya sangat mahal,” ungkap Sugianto.
Untuk itu lanjut dia perlu ada perhatian pemerintah agar dapat menyediakan pupuk bersubsidi bagi petani. Ditambahkannya pada musim panen bulan lalu kebun sawitnya yang berada pada lahan seluar 21 hektare tersebut sanggup menghasilkan buah seberat 50 ton setiap kali panen, namun kini lantaran kekurangan pupuk untuk menyuburkan buah maka panen yang dihasilkan angkanya berada dibawah 50 ton per sekali panen,
 
Petani sawit yang tergabung pada Kelompok Tani Sawit Sejahtera ini mengaku telah mempunyai pengalaman mengelola kebun sawit di Malaysia selama 20 tahun, dan berdasarkan pengalaman dan kemahirannya itulah pada 2002 ia kembali ke Tanah Air kemudian menerapkan ilmunya dibidang kelapa sawit, dan sebelumnya tepatnya 1982-2000 mengelola perkebunan karet dan sawit di negeri jiran itu.
 
Alhamdulillah dengan modal pengalaman di negeri tetangga, sepulang dari sana saya mencoba membuka lahan seluas 21 hektare, kini sekitar 15 hektare yang sudah saya anggap berhasil, sehinnga ada rencana untuk membuka lahan baru di Buluminung saya rencanakan seluas kurang lebih 50 hektare lagi,” tuturnya.
 
Berkaitan dengan ini Sugianto meminta pada pemerintah daerah melalui dinas terkait berupa bantuan bibit dan pupuk, meski tidak gratis, namun ia sanggup mengembalikan berapa anggaran yang ditetapkan. Hanya saja dirinya memohon kebijakan pemerintah agar dalam pengembalian dana bantuan pupuk itu dikembalikan sedikitnya dalam tiga tahap.
 

“Hingga kini kami masih mengelola kebun kelapa sawit secara swadaya dan sangat berharap sekali pihak pemerintah dan DPRD membantu permodalan berupa pupuk dan bibit. Selain itu bila ada asosiasi yang berskala daerah yang ingin mengajak bergabung kami bersedia untuk itu,” pungkasnya.

 

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SELASA, 2 NOVEMBER 2010


Artikel Terkait