Petani Lada Kaltim Kekurangan Pupuk Organik
12 Januari 2016 Admin Website Berita Daerah 338
Petani Lada Kaltim Kekurangan Pupuk Organik

SAMARINDA. Benua Etam yang dulunya menghasilkan lada besar-besaran dan menjadi pengekspornya, kini justru seolah diabaikan. Malah kekurangan pupuk organik yang cukup dibutuhkan. Memiliki potensi yang sebenarnya hebat, namun kurang dimanfaatkan.

Pemerintah, pengusaha, maupun masyarakat saat ini lebih memilih berkebun sawit, karena dianggap lebih mudah diurus. Produk hilirisasi sang investor tunggal sudah "lari" ke Jawa Timur. Banyak alasan pelarian itu yang dinilai memang wajar. Mungkinkah lada Kaltim bisa bangkit di era perlambatan ekonomi global?

Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim Sukardi menjelaskan, saat ini lada Kaltim memang dipandang tak lebih menyenangkan dibanding berkebun sawit. Sebab, mengelola lada perlu keseriusan dalam hal waktu, yakni diperlukan perhatian intensif sehari penuh. Hama maupun gangguan tanaman lainnya mudah menyerang.

Dibanding sawit, ujar Sukardi, lada tak memiliki kekuatan lebih untuk bertahan di musim panas. "Sedangkan di musim penghujan, bila terlalu banyak curah hujan itu, akan terganggu jamur, atau biasa disebut petaninya cendawan. Kini, kebun lada di Kaltim kekurangan pupuk organik. Sehingga cukup sulit berkembang," paparnya.

Dia mengatakan, tahun ini Disbun Kaltim akan menyediakan pupuk organik bagi masyarakat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Yakni, untuk masyarakat petani kebun lada di Kukar seluas 300 hektare (ha) dan di Penajam Paser Utara (PPU) seluas 100 ha. Sementara kebun lada di Berau maupun Kutim, belum diberikan bantuan di tahun ini dalam perencanaan itu. "Asalkan curah hujan normal dan tak terdapat El Nino, produksi lada Kaltim bisa terus meningkat. Pupuk organik ini masih kurang digunakan di Kaltim," ujarnya.

Diketahui, banyak petani yang menggunakan bahan kimia untuk pemupukan. Berdasarkan data yang dikeluarkan Kementerian Pertanian, banyak lahan di Indonesia memiliki kadar bahan organik yang kurang dari 1 persen. Sedangkan dari berbagai pengalaman dan penelitian para ahli menyatakan kadar bahan organik yang tinggi dalam tanah akan sangat membantu memaksimalkan hasil yang didapat pelaku usaha perkebunan atau pertanian.

Sebelum masa kemerdekaan Indonesia, para petani sangat senang menggunakan pupuk organik dalam melakukan budi daya pertanian dibandingkan dengan pupuk anorganik. Namun, fakta menjadi terbalik semenjak era 1960-an. Petani mulai menggunakan bahan kimia dalam budi daya pertanian. Produksi pupuk kimia pun dari waktu ke waktu semakin berkembang.

Kini, lanjut dia, produksi lada pada lahan seluas 9.497 ha di Kaltim sebanyak 6.704 per ton dalam setahun. Hal ini masih ingin digenjot, dan berharap ada kemajuan pada 2016 ini. (*/mon/lhl/k15)

SUMBER : KALTIM POST, JUMAT, 8 JANUARI 2016


Artikel Terkait