Nilai Ekspor Sawit RI Capai US$ 16,4 Miliar di 2010
25 Januari 2011 Admin Website Artikel 286

Jakarta - Sepanjang 2010, nilai ekspor CPO dan produk turunan sawit Indonesia mencapai US$ 16,4 miliar, naik 50% lebih dari 2009 yang berjumlah US$ 10 miliar. Kenaikan ini karena tingginya harga CPO internasional.

Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan dalam siaran pers, Senin (24/1/2011).

"Di kuartal I, nilai ekspor CPO sebesar US$ 2,66 miliar selanjutnya bertambah menjadi US$ 3,04 miliar di kuartal II. Berikutnya di kuartal III, nilai ekspor sebesar US$ 4,46 miliar yang kian melonjak tajam menjadi sekitar US$ 6,32 miliar di kuartal IV," tutur Fadhil.

Berdasarkan data Gapki, sepanjang Januari-Desember 2010 volume ekspor CPO Indonesia naik tipis sebesar 127.498 ton atau menjadi 15.656.349 ton, dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 15.528.851 ton.

Pertumbuhan ekspor CPO nasional didorong kenaikan jumlah pembelian oleh tiga konsumen utama yakni India, Cina, dan Uni Eropa.

"Pada 2010, jumlah ekspor CPO dan produk turunannya ke India sebanyak 5.793.077 ton yang meningkat dari 2009 berjumlah 5.630.199 ton," kata Fadhil.

Indonesia lebih banyak mengimpor CPO hingga 4.498.365 ton, disusul RBD Olein sebanyak 861.944 ton, Crude Olein berjumlah 135.002 ton, Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) sebesar 95.631 ton, RBD Palm Oil (PO) berjumlah 63.012 ton, RBD Stearin sebanyak 74.120 ton dan Crude Stearin berjumlah 11.000 ton.

Sementara itu, negara-negara Uni Eropa meningkatkan jumlah pembelian CPO dan produk turunannya dari Indonesia berjumlah 3.728.677 ton. Sama dengan India, Uni Eropa lebih banyak membeli CPO sebanyak 2.537.431 ton, RBD Stearin sebanyak 426.673 ton, RBD PO berjumlah 314.364 ton, RBD Olein sebesar 293.437 ton, PFAD berjumlah 148.069 ton, Crude Olein sebanyak 8.000 ton dan Crude Stearin sebesar 700 ton.

"China mengimpor CPO dan turunannya dari Indonesia berjumlah 2.410.337 ton, di mana impor terbesar berupa produk RBD Olein berjumlah 1.491.948 ton. Selanjutnya, RBD Stearin sebesar 632.312 ton, CPO berjumlah 231.617 ton, PFAD mencapai 46.458 ton, dan RBD PO sebanyak 8.000 ton," papar Fadhil.

Kemudian, Bangladesh membeli CPO dan produk turunan dari Indonesia berjumlah 629.529 ton, USA mengimpor 172.167 ton CPO dan produk turunannya dari Indonesia.

Lalu, Pakistan mengimpor 87.379 ton CPO dan produk turunannya yang turun drastis dari tahun lalu, karena tertundanya penyelesaian Preferential Trade Agreement (PTA) Indonesia-Pakistan. Adapula, ekspor CPO dan produk turunan Indonesia ke negara-negara lain berjumlah 2.889.182 ton.

Sebagai informasi, dari total ekspor 15,6 juta ton ternyata masih didominasi ekspor minyak sawit mentah (CPO) yang mencapai 8.779.940 ton (56,2%) dan sisanya produk turunan CPO berjumlah 6.876.405 ton (43,8%).

"Berdasarkan data tersebut, Gapki mencatat bahwa permintaan dunia masih terfokus kepada minyak sawit mentah ketimbang produk turunannya. Hal ini dapat terlihat dari permintaan India dan Uni Eropa yang menjadi pasar terbesar CPO dunia," jelas Fadhil.

Dari volume ekspor produk turunan CPO, jumlah ekspor lebih banyak berbentuk RBD Olein yang sebesar 3.565.096 ton (51,8%), disusul RBD Stearin berjumlah 1.435.145 ton (20,8%), RBD Palm Oil berjumlah 884.726 ton (12,8%), Crude Olein sebanyak 587.778 ton (8,5%), PFAD sebesar 382.459 ton (5,5%) dan Crude Stearin berjumlah 21.201 ton (0,6%).

 

DIKUTIP DARI DETIK ONLINE, SENIN, 24 JANUARI 2011


Artikel Terkait