Limbah Sawit, Investasi Baru Energi Listrik Biaya Rendah
04 September 2013 Admin Website Berita Daerah 401
Limbah Sawit, Investasi Baru Energi Listrik Biaya Rendah

SAMARINDA. Pengembangan listrik berbiaya tinggi ke berbiaya rendah mengarah pada pengolahan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi baru sekaligus peluang investasi baru di Kaltim. Sebab, potensi perkebunan sawit Kaltim menjanjikan untuk menunjang pengembangan listrik berbiaya rendah melalui pengolahan limbahnya sebagai sumberenergi baru terbarukan. 

"Ini peluang investasi yang terbuka ke depan. Pengolahan limbah sawit menjadi sumber energi listrik mesti dilirik dari sekarang. Sebab, saat ini baru PT Rea Kaltim Plantations yang mengolah limbah sawit menjadi sumber energi baru, dan yang lainnya jadi sampah dan terbuang," ungkap Kepala Badan Perizinan dan Penanaman Modal Daerah (BPPMD) Kaltim, Didi Rusdiansyah ketika berbincang di Samarinda, akhir pekan tadi. 

Peluang dimaksud, menurut dia, lantaran potensi perkebunan sawit begitu besar. Luasnya mencapai 979 ribu hektare dari 3,8 juta hektare konsesi lahan perkebunan di Kaltim. Tapi, tidak dibarengi dengan pemanfaatan pengolahan limbahnya sebagai sumber energi terbarukan. 

Contohnya seperti di Kutai Timur dan Kutai Barat. Potensi perkebunan sawit dan limbahnya tidak termanfaatkan dan hanya terbuang percuma menjadi sampah. Karena itu, ia menginstruksikan staf untuk menghimpun data terkait potensi limbah sawit dari sekian banyak perkebunan di Kaltim. "Saya sudah suruh staf kliping potensinya untuk kemudian dikaji kemungkinan pengembangannya," katanya. 

Meski kesinambungan pemenuhan energi terbarukan itu berbiaya murah, menurut dia, pembiayaan awal pembangkit listrik dan pabrik pengolahan bahan baku menjadi sumber energinya butuh pembiayaan besar. Sedang potensi yang sudah mulai dilirik investor di antaranya pengembangan PLTA dengan pemanfaatan potensi sungai Kayan Bulungan, dan peluang ini bahkan jadi rebutan investor asing. 

Ia menyebut, saat ini ada tiga investor dari China yang akan melakukan pengembangan PLTA. Pertama, China Power Investment Coorporations yang sudah dapat izin lokasi dari Bupati Bulungan dan sedang proses lanjutan pembangunannya di Long Peso, disusul Hanergi Holdings Group Company yang sudah studi, dan Kalimantan Electrik City, perusahaan patungan China -- Perusda Malinau yang sudah mengantongi izin prinsip.  

"Ada sebelas titik yang dibangun dengan total investasi Rp 110 triliun dan statusnya PMA. Kekuatan daya secara keseluruhannya diproyeksikan mencapai 7.000 - 8.000 megawatt (MW)," sebutnya seraya merici kekuatan per titik di antaranya 420 MW, 1.200 MW., dan 1.850 MW.  

Menurut dia, sekarang tinggal menunggu realisasinya. Pemda sendiri terus mendorong realisasinya dan mengarahkan menjadi smelter dan sisanya menjadi pasokan. Sekali pun dimasukkan dalam jaringan Kaltara, dengan total kekuatan tersebut dinilai akan melebihi pasokan listrik di Kaltara, sehingga diharap bisa masuk jaringan Mahakam untuk memenuhi pasokan listrik di Kaltim. 

Yang lainnya, industri pengolahan batubara menjadi batubara cair. Ini juga energi murah. Korin Korea diisyaratkan siap menampung penjualannya jika tidak bisa diolah di dalam negeri. "Mereka (Korin Korea, Red) sudah lakukan penjajakan pembangunan pembangkit listriknya. Nah, jika semua terwujud yakin kebutuhan listrik Kaltim terpenuhi," katanya.

SUMBER : DISKOMINFO PROV. KALTIM 


Artikel Terkait