Kembangkan Tanaman Nila
05 Mei 2009 Admin Website Artikel 360
#img1# Tanaman nilam tersebut menjadi alah satu bahan baku parfum yang diperlukan dunia internasional. Oleh karena itu, peluang yang cukup menjanjikan dimanfaatkan secara maksimal oleh Pemkab Kutim, demi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan program Gerakan Daerah Pengembangan Agribisnis (Gerdabangagri) yang sedang gencar dilaksanakan.

Sehubungan rencana dimaksud, Sekkab Kutim Sjafruddin Achmad beberapa waktu lalu menyatakan, program Gerdabangagri tidak hanya bertumpu pada sektor perkebunan kelapa sawit. Tanaman atau komoditas potensial lainnya juga ikut dikembangkan dan mendapat perhatian.

"Pemerintah kabupaten bertekad menjadikan wilayah Kutim sebagai pusat agroindustri dan agribisnis. Selain kelapa sawit, kakao dan karet, maka kini tanaman nilam juga akan digalakkan. Hanya yang mesti diingat, perlu pembinaan yang benar-benar terarah agar petani bisa mengolah kebun dengan sentuhan teknologi," harapnya.

Berikut yang juga perlu diperhatikan adalah menyangkut kecenderungan masyarakat yang sering ikut-ikutan dalam bercocok tanam. Artinya, kalau saat ini tanaman nilam marak dikembangkan di wilayah Kecamatan Rantau Pulung, maka warga yang tinggal di kecamatan lain ikut-ikutan menanam tanaman nilam. Padahal belum tentu cocok karena belum melalui pengkajian mendalam.

Oleh karena itu, melalui kerjasama dengan IPB diharapkan pembinaan terhadap petani dilakukan secara maksimal. Mulai dari pemilihan bibit, cara budidaya, proses pembuatan minyak nilam hingga prospek pemasarannya.

Daerah Kutim memiliki lahan yang cukup luas, dan sangat cocok untuk budidaya tanaman Nilam. Oleh karena itu, melalui kerja sama yang dilakukan PT KTI dengan ITB, diyakini tanaman nilam bisa memberi manfaat besar demi untuk kesejahteraan masyarakat.

Di Indonesia, tanaman nilam dikembangkan di lima daerah yakni Aceh, daerah Fakfak, Sumatra Barat, Kuningan dan Blitar. Diharapkan kedepan, Kutim akan masuk dalam wilayah pengembangan tanaman nilam terbesar di Indonesia.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SELASA, 5 MEI 2009

Artikel Terkait