Kaltim Fokus Kembangkan SDA yang Berkelanjutan
11 Desember 2012 Admin Website Artikel 346
SAMARINDA. Sesuai dengan visi pembangunan daerah mewujudkan Kaltim sebagai pusat agroindustri dan energi terkemuka menuju masyarakat adil dan sejahtera. Pemprov Kaltim saat ini, fokus pada kegiatan ekonomi kemasyarakatan pada pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang dapat diperbarui atau berkelanjutan.

"Pengembangan sektor pertanian dalam arti luas merupakan kegiatan prioritas Pemprov Kaltim dalam pengelolaan SDA diperbaharui dengan andalannya sub sektor perkebunan," kata Gubernur Awang Faroek dalam sambutan tertulis yang disampaikan Staf Ahli Gubernur Bidang Pertanian, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Rudi T Koesnandar pada HUT Perkebunan ke-55 di halaman Kantor Dinas Perkebunan Kaltim, Senin (10/12).

Menurut dia, kebijakan ini didasari pada pemikiran SDA berupa minyak dan gas bumi yang selama ini menjadi penyumbang terbesar bagi devisa negara akan habis dan tidak dapat diperbarui.

Karenanya, dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kaltim 2009-2013 sektor perkebunan ditargetkan dapat mencapai pengembangan Sejuta Hektar Kelapa Sawit dan 250 ribu hektar aneka tanaman lainnya.

Bahkan program ini sejalan dengan rencana program kerja pemerintah pusat melalui Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 dan Kaltim termasuk dalam koridor pembangunan ekonomi dan energi terbarukan.

Program ini ditindaklanjuti dengan rencana aksi percepatan pembangunan Kawasan Industri Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy di Kutai Timur sebagai pusat pengembangan industri yang berbasis pertanian dan oleochemical.

Sementara itu Bontang berbasis migas dan kondensat untuk bahan baku industri pupuk urea. Sedangkan sebagai penunjang sub sektor lainnya pada terminal Kawasan Industri Kariangau (KIK) di Balikpapan.
"Pembangunan perkebunan diarahkan sebesar-besarnya untuk peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, khususnya pekebun dan keluarganya. Pemprov menerapkan sistem ekonomi kerakyatan baik tenaga kerja, produsen atau mitra usaha untuk meningkatkan taraf hidupnya serta partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan agribisnis," jelasnya.

Kepala Disbun Kaltim Etnawati mengemukakan periode 2008-2011 luas areal tanaman perkebunan mengalami pertumbuhan cukup signifikan rata-rata 7,18 persen pertanian dari 591.223 hektar menjadi 995.618 hektar.
"Produksi mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 15,55 persen pertahun dari 1.786.776 ton pada 2008 menjadi 4.603.373 ton pada 2011. Target sejuta hektar untuk saat ini sudah terealisasi 827.347 hektar atau sampai akhir 2012 masih kekurangan 120.613 hektar," ujar Etnawati.

Namun lanjutnya, optimis dapat dicapai program sejuta hektar dengan indikator permintaan benih/kecambah sebagai bibit yang sudah dipesan perusahaan besar swasta, penangkar benih dan pemerintah kabupaten/kota sebanyak 35.571.050 kecambah atau setara dengan luasan 237.140 hektar.

Pada kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama antara Dinas Perkebunan dengan Dinas pertanian Tanaman Pangan tentang pelaksanaan intercropping padi, jagung dan kedelai dalam kebun kelapa sawit.

Penandatanganan kesepakatan Dinas Peternakan dengan Dinas Perkebunan tentang pelaksanaan integrasi sapi potong dengan tanaman perkebunan. Dirangkai penyerahan bantuan Pemprov Kaltim untuk pengembangan kemitraan perkebunan, bantuan sarana produksi dan peralatan mesin serta pemberian penghargaan. (yans/hmsprov)

SUMBER : SEKRETARIAT


Artikel Terkait