Indonesia-Malaysia Sepakat Perkuat Harga CPO
10 Oktober 2012 Admin Website Artikel 307

JAKARTA. Menteri Pertanian RI Suswono dan Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Tan Sri Bernard Dompok melakukan pertemuan kerja sama untuk memperkuat harga sawit yang fluktuatif. Pertemuan dilakukan di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin(8/10). 

Pertemuan bilateral tersebut adalah bagian dari upaya merespon penurunan harga sawit yang telah berlangsung dari pekan keempat bulan September lalu. Kesepakatan yang dilakukan adalahdengan membuat mekanisme manajemen suplai dan demand untuk memperkuat harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).   

"Dalam pembicaraan inidibahas soal penurunan harga sawit. Kita [Indonesia dan Malaysia] akan mengatursuplai [CPO], mekanisme suplai, supaya harga tidak terus jatuh," ujar Suswono.  Menurutnya, Indonesia dan Malaysia sepakat agar harga sawit stabil dan kedua negara memperoleh harga yang bagus. "Oleh karena itu, pengaturan suplai akan dilakukan," tegasnya. 

"Selama ini harga CPO ditentukanoleh konsumen, padahal produksi dikuasai Indonesia dan Malaysia. Kami akan atur harga dan produksi agar ada kesepahaman. Teknisnya masing-masing akan dibicarakan dalam sidang kabinet," ungkap Suswono. 

Harga CPO saat ini turun drastismencapai US$700-US$800 per ton dibandingkan dengan sebelumnya mencapai US$1.100per ton. Indonesia dan Malaysia menguasai produksi sawit 90% dari produksidunia. Lantaran krisis melanda Eropa dan China yang merupakan pasar potensial,produksi CPO pun menurun dan harga juga ikut turun.  

"Penurunan harga CPO dipengaruhi oleh krisis di Eropa dan Cina. Karena itu, dalam beberapa minggu ini pemerintah akan melihat perkembangan krisis untuk menentukan mekanisme pengaturan harga CPO di pasar dunia. Kami akan mendorong hilirisasi untuk penguatan harga CPO dimasa mendatang. Di samping itu juga antisipasi jangka panjang akan beralih ke biodisel, itu sedang kami rancang," tambah Suswono. 

Namun, Mentan Suswono optimistis harga akan naik pada bulan November lantaran kebutuhan CPO untuk persiapan musim dingin di Eropa. "Kalau demandnya tinggi, pasti harga ikut naik," kata Suswono. 

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia Tan Sri Bernard Dompok mengatakan, Indonesia dan Malaysia harus bekerja sama untuk menetapkan harga CPO ini agartidak didikte negara konsumen. Untuk memproteksi harga CPO-nya, Dompok menuturkan, pihaknya akan mengurangi luasan lahan sawit dengan carame-replanting sekitar 300 ribu hektare sawit yang usianya lebih dari 25 tahun disamping mencadangkan CPO untuk biodiesel. "Tapi, untuk teknis kesepakatan ini, kami akan membicarakannya di rapat kabinet Jumat (12/10) mendatang," ujar Tan Sri Bernard Dompok. 

Produksi CPO Malaysia tahun lalu tercatat 18,9 juta ton dengan luas areal tanaman 5 juta hektare. Tahun ini Malaysia akan mengurangi produksi hingga hanya 18 juta ton CPO. Sedangkan Indonesia memproduksi CPO 22,5 juta ton dengan luas lahan 8,9 juta hektare. Berbeda dengan Malaysia yang akan mengurangi produksi, Indonesia justru menargetkan produksi CPO tahun ini naik menjadi 22,6 juta ton.

SUMBER : HUMAS KEMENTERIAN PERTANIAN

Artikel Terkait