Harga Kakao Turun
08 Maret 2011 Admin Website Artikel 255

DIBANDINGKAN dengan tahun kemarin harga kakao kering pada musim panen tahun lebih rendah. Tahun kemarin harga kakao kering per kilogram mencapai Rp 20.000 kemudian naik lagi hingga mencapai Rp 35.000. Sedangkan pada musim panen tahun ini harga kakao kering anjlok hanya mencapai Rp 15.000.

Turunnya harga kakao tersebut, menurut sejumlah warga pemilik perkebunan kakao di Desa Kuala Lapang diperkirakan karena sedang musim. “Belum lagi  pembeli itu juga mencari keuntungan. Mungkin ia (pembeli) orang ketiga,” terang Ishak Mayun, pemilik perkebunan sekaligus Ketua BPD Desa Koala Lapang.

Meski  kecewa namun para petani sedikit terobati oleh adanya tambahan hasil panen dari perkebunan PIR yang diprogramkan pemerintah 4 tahunan lalu. “Sekarang sudah berbuah dan dipanen,” terang Kepala Desa Kuala Lapang Narasau ST Mou, Senin (7/3) kemarin. Dengan adanya tambahan tersebut, imbuhnya, saat ini Desa Kuala Lapang sudah memiliki lahan perkebunan kakao warga seluas 69 hektar. Dan untuk meningkatkan produktivitas panen, pemerintah desa sudah melakukan pembagian racun hama dan perangsang buah. Pembagian dilakukan kepada warga khususnya petani pemilik perkebunan kakao.

“Sebagian besar sudah menerima. Tinggal yang tersisa, yang belum mengambil,” imbuhnya.

Disebutkan Narasau, pembagian racun hama dikhususkan untuk mencegah dan membasmi  hama pengerek yang banyak menjadi penyebab kematian tanaman kakao. Baik itu pengerek yang mengelilingi batang maupun pengerek yang menembus ke dalam batang.

Sedangkan perangsang buah, imbuhnya, tidak lain bertujuan untuk meningkatkan produktivitas buah agar hasil panen lebih meningkat. Selain kakao dan kopi, sambung Narasau, warga juga sudah menyiapkan lahan untuk perkebunan karet. Disediakannya lahan tersebut, terangnya, menyambut wacana program perkebunan karet untuk wilayah perbatasan yang sempat disosialisasikan Dinas Perkebunan dengan luas untuk Malinau 1.000 hektar.

Desa Kuala Lapang, sebut Narasu telah mengajukan sebanyak 46 hektar. Lahan tersebut berasal dari warga yang menjadi anggota kelompok tani di sana. “Mudah-mudahan terlaksana,” harap Narasau.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SELASA, 8 MARET 2011

Artikel Terkait