BK Ekspor CPO 9% Tak Gereget
31 Oktober 2012 Admin Website Artikel 304
MEDAN. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menilai langkah pemerintah menurunkan bea keluar (BK) ekspor minyak sawit mentah (crude palm oiI/CPO) menjadi 9% pada November tidak memiliki gereget untuk meningkatkan ekspor CPO dan membantu petani kelapa sawit.
 
Sekjen Apkasindo Asmar Arsjad menilai penurunan BK CPO dari 13,5% menjadi 9% untuk periode November tidak akan membawa pengaruh besar terhadap peningkatan daya serap ekspor CPO Indonesia karena kalah bersaing dengan CPO Malaysia yang sudah menurunkan BK CPO-nya dari 35% menjadi 4,5% -8,5 %.
 
"Pemerintah tidak pernah serius menurunkan BK CPO. Kebijakan yang diambil selalu tanggung dan kurang mendukung ekspor CPO," ujarnya menjawab Bisnis di Medan, Selasa (30/10).
 
Menurutnya, bagaimana mungkin CPO Indonesia mampu bersaing dengan Malaysia karena harga CPO negara jiran itu sudah pasti lebih murah dibandingkan dengan minyak sawit Indonesia.
 
Semestinya, kata Asmar, pemerintah menurunkan BK CPO hingga tinggal 2,5%, sehingga stok CPO yang menumpuk di dalam negeri bisa mengalir ke pasar ekspor.
 
Saat ini, tuturnya, jutaan ton CPO Indonesia menumpuk di tangki penimbunan dan pabrik kelapa sawit.
"Tangki-tangki timbun semua penuh. Tangki,penampungan di PKS (pabrik kelapa sawit) juga penuh, sementara kebutuhan di dalam negeri hanya 6 juta ton CPO per tahun."
 
Tetap Rendah
 
Akhir tahun harga CPO di pasar dunia bakal tetap rendah seperti saat ini US$ 700-US$ 800 per ton. Demikian juga harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani, menurut Asmar, akan semakin terpuruk hingga mencapai Rp 500 per kg sampai akhir tahun.
 
"Saat ini saja harga TBS terendah di tingkat petani Rp 600 per kg dan tertinggi sekitar Rp 800 per kg," tuturnya.
 
Seperti diketahui, Kementerian Perdagangan menetapkan tarif BK ekspor minyak sawit mentah atau CPO untuk November 2012 menjadi sebesar 9%, Itu berarti turun 4,5% dari bulan sebelumnya.
 
Mulai awal tahun depan, Malaysia berencana menurunkan pajak ekspor CPO-nya dari 35% menjadi 4,5% -8,5 %. Berarti, harga akhir minyak sawit mentah negeri jiran itu akan lebih murah ketimbang produk Indonesia.
 
Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut Laksamana Adyaksa mengatakan pemerintah selalu membuat kebijakan yang tanggung mengenai kelapa sawit.
 
"Kalau BK hanya diturunkan menjadi 9% sudah pasti CPO Indonesia tidak mampu bersaing dengan Malaysia. Idealnya BK CPO antara 0% - 2,5% saja untuk November sampai Desember 2012," tandasnya.
 
Laksamana juga menilai kebijakan pemerintah untuk merangsang investor masuk ke industry hilir kelapa sawit tidakmemiliki arah yang jelas. Dia mencontohkan Wilmar yang meminta tax holiday, yang sampai kini belum mendapatkan jawaban. "Apa sih susahnya membuat kebijakan dengan memberikan keringanan berupa tax holiday industry hilir sawit sampai 5 tahun," tegasnya.
 
DIKUTIP DARI BISNIS INDONESIA, RABU, 31 OKTOBER 2012

Artikel Terkait