300 Ribu Bibit Karet
16 Maret 2011 Admin Website Artikel 249

RENCANA pembukaan perkebunan karet seluas 1.000 hektare untuk daerah perbatasan, khusunya Malinau, disambut antusias para petani di setiap kecamatan. Bukan hanya petani, tentu saja tapi juga termasuk mereka yang selama membuka pembenihan. Bagi petani, program perkebunan karet menjadi harapan baru selain dari perkebunan yang selama ini mereka tekuni, kopi dan kakao termasuk sawit.

Menyambut program tersebut, Kecamatan Malinau Barat misalnya, sejauh ini telah mengajukan permintaan sebanyak 300 ribu bibit karet. Menurut Camat Malinau Barat Makson SSos MM, jumlah tersebut akan diperuntukan bagi para petani yang ada di 9 desa.

Kasi PMD Rolland Rudianto SSTP menambahkan, karet memang sudah ditanam tapi masih sebagian kecil saja. Masih kalah oleh perkebunan lainnya, seperti kakao dan kopi serta sawit. Munculnya program tersebut diharapkan akan menambah minat masyarakat untuk  membuka ladang baru di sektor perkebunan.

Untuk diketahui, Dinas Perkebunan, seperti diungkapkan Frans Juli, kasi Perkebunan Dinas Perkebunan,  program nasional perkebunan karet untuk kawasan perbatasan,  akan membuka peluang bagi terbukanya lahan seluas 1.000 hektare. Lahan tersebut akan diambil dari  kecamatan-kecamatan baik yang berada di garis perbatasan maupun di wilayah kota yang memiliki potensi untuk itu.

Jika memang sesuai rencana, jelas Frans Juli, maka tahun 2011 ini program tersebut akan berjalan. “Tapi itu tergantung pemerintah pusat, dari Departemen Kementerian Kehutanan yang punya program,” terangnya. Ia berharap program ini terealisasi tahun ini dan bukan sekadar wacana pemerintah pusat saja.

Program 1.000 hektare perkebunan karet untuk masyarakat ini, lanjutnya, akan menambah jumlah kawasan perkebunan yang sementara ini sudah ada. Antara lain yang dikembangkan lewat PIR dan revitalisasi pada tahun 2009 yang secara keseluruhan telah mencapai 200 hektare. Perkebunan tersebut berada di Kecamatan Mentarang, Malinau Barat, Malinau Selatan dan Malinau Utara.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, RABU, 16 MARET 2011

Artikel Terkait