(0541)736852    (0541)748382    disbun@kaltimprov.go.id

2023, Kaltara Menjadi Tuan Rumah The 6th Borneo Forum

25 Agustus 2022 Admin Website Berita Daerah 1199
2023, Kaltara Menjadi Tuan Rumah The 6th Borneo Forum

PALANGKARAYA. Forum Borneo akan terus berlanjut tahun depan sesuai situasi dan kondisi serta isu kekinian yang terjadi pada komoditi dan industri kelapa sawit secara lokal, regional, nasional bahkan internasional.

"Tahun depan tuan rumah Forum Borneo ke 6 kita pilih Kalimantan Utara," kata Presiden Borneo Forum Muhammadsjah Djafar usai mendampingi Gubernur Kaltim Isran Noor menghadiri The 5th Borneo Forum 2022 di Ballroom Kahayan Swiss Belhotel Danum Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (24/8/2022).

Menurut dia, pertemuan The 6th Borneo Forum di Kalimantan Utara pada 2023 tetap mengangkat isu kekinian perkelapa sawitan.

Namun demikian lanjut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim ini, pihaknya selaku leading sector forum tetap selalu berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan selaku instansi yang berwenang dalam subsektor perkebunan serta instansi terkait lainnya bahkan Kementerian Koordinator Perekonomian.

"Seperti tahun ini, baru saja kita bahas dalam The 5th Borneo Forum tadi hingga besok Kamis terkait kegiatan peremajaan sawit dan harga TBS (tandan buah segar) kelapa sawit serta beberapa isu penting lainnya," jelasnya.

Diakuinya kualitas sawit Kaltim juga Indonesia cukup bagus meski harga masih fluktuatif tetapi sangat menjanjikan.

Misalnya, harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah cukup tinggi dengan permintaan pasar dalam dan luar negeri yang tinggi pula.

Selain itu, produksi CPO khusus Kaltim minimal mencapai 4 juta ton per tahun yang didistribusikan (ekspor) ke berbagai negara seperti Pakistan dan India serta negara-negara Eropa.

Meski pangsa pasar luar negeri sangat menjanjikan dan harga tinggi, Muhammadsjah tidak menampik tetap pihaknya berupaya memenuhi pasar lokal untuk konsumen dalam negeri.

"Ya kita jual ke Sinar Mas, Filma, Musim Mas juga Gawi Makmur dan beberapa perusahaan lain. Dan mereka kontrak enam bulan kedepan. Artinya, mereka sudah membayar enam bulan terlebih dulu. Alasannya, agar tidak sempat kosong atau stok tetap tersedia," ungkapnya.


Muhammadsjah pun tidak menyanggah jika selama ini komoditi sawit Indonesia menghadapi permasalahan pasar global, terutama black campaign yang dihembuskan negara-negara pesaing bahwa perkebunan kelapa sawit Indonesia merusak hutan dan mengakibatkan masalah lingkungan.
.
"Ya, melalui forum seperti ini lah, kita pelaku perkelapasawitan terus berupaya menangkal permasalahan dengan mencari solusi, disamping terus meningkatkan produksi dan produktifitas serta kualitas kelapa sawit kita," pungkasnya. (yans/her/adpimprovkaltim)


SUMBER : SEKRETARIAT

Artikel Terkait