Wali Kota Minta Jalan Mulus, BPR Dukung Permodalan
08 Mei 2008 Admin Website Artikel 412
#img1# "Sarana pendukung dalam menyejahterakan petani sawit harus kita utamakan. PU mana (Dinas Bina Marga), tolong nanti jalan tani-nya dibuat sehingga mulus dan tentunya akan mempermudah akses pemasaran. BPR (Bank Perkreditan Rakyat) mana juga, kan ada dana Rp 3 miliar, bisa dibantu petani sawit kita ini," ujar wali kota dalam sambutannya yang disambut aplaus para petani yang hadir pada acara tersebut.

Menurut Amins, potensi SDA yang terkandung dalam suatu wilayah mutlak diolah, yang hasilnya akan dikembalikan guna meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat.

"Dalam upaya dan tujuan tersebut, sejak kurun waktu 5 tahun terakhir, pemkot telah melakukan berbagai upaya untuk dapat mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan, khususnya kelapa sawit," tegasnya.

Direktur Utama PT Agricinal Manurung mengatakan, pembangunan pabrik yang merupakan harapan masa depan cerah masyarakat, khususnya petani sawit tersebut, ditandai dengan peletakan batu pertama dan penandatanganan prasasti oleh wali kota Samarinda di lokasi area pembangunan yang terletak di Sungai Mukun Kelurahan Bantuas Kecamatan Palaran.

Sesuai dengan ketersediaan lahan kering yang banyak terdapat di provinsi, menurut Koordinator Sawit Yusradiansyah tanaman kelapa sawit merupakan komoditi yang memiliki potensi meningkatkan harkat dan martabat kehidupannya masyarakat, khususnya petani.

#img2# "Dengan adanya pabrik sawit ini, tentu akan berpengaruh pada tingkat penghasilan petani yang selama ini menjual ke luar kota dengan perbandingan modal yang tentu lebih tinggi. Kemudahan juga akan didapat karena tidak jauh mengangkut hasil panennya," ungkap Yusra mendukung keprihatinan Achmad Amins terhadap kondisi pemasaran hasil akhir komoditi sawit di Samarida selama ini.

Sementara itu secara teknis Kepala Cabang PT Agricinal Ricard Simangunsong menyebut pembangunan pabrik berkapasitas 30 ton/per jam tersebut akan menelan investasi Rp 63 miliar dengan target jangka pembangunan 1,5 tahun.

Dikatakan Ricard, sejauh ini pihaknya telah mengelola lebih kurang 1.800 hektare areal perkebunan sawit. Jumlah ini belum termasuk 3000 hektare perkebunan hasil swadaya masyarakat yang turut pula mereka bina.

"Ini baru di Samarinda. Belum yang tersebar di beberapa kabupaten lain, seperti Kubar, Kutim, dan Kukar," tandasnya.

Menurut Ricard, keterlibatan pihaknya dalam melakukan pembinaan tidak saja terbatas pada pengelolaan penanaman dan pengolahan hasil akhir, namun akan melebar kepada rencana pengembangan peternakan.

"Karena selain minyak sebagai hasil inti, hasil lain dari komoditi ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Limbah ternak itu dapat dijadikan sumber biogas. Jadi kalau dilaksanakan secara bersamaan tentu dapat dijadikan suatu komoditi terpadu," pungkas Ricard.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, KAMIS, 8 MEI 2008

Artikel Terkait