Tak Dapat Pupuk, Distributor Salahkan Petani
05 Januari 2010 Admin Website Artikel 277
"Jadi kalau mau pupuk, tidak boleh perseorangan melainkan melalui kelompok oleh masing-masing kampung. Setelah itu, kelompok tani membuat RDKK dan diketahui petinggi setempat, petugas penyuluh lapangan (PPL), dan kepala Kantor Ketahanan Pangan Kubar," Suharto kepada media ini, Minggu (3/1).

#img1# Sebelumnya, Winto warga Kampung Asa Kecamatan Barong Tongkok mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk untuk perkebunan karetnya. Jikapun stoknya ada, tapi harganya sangat mahal. "Tapi sekarang meski terbilang mahal, tapi malah tidak ada yang menjual pupuk," keluh Winto.

Lebih lanjut, ungkap Suharto, yang terjadi selama ini petani agak sulit membuat RDKK, sehingga tidak membeli pupuk. Stok pupuk di Kubar, kata dia, kuota (jatah) pupuk Kubar dari PT Pupuk Kaltim (PKT) pada 2009 ini meningkatkan 150 ton dibandingkan 2008 menjadi 350 ton. Untuk 2008 lalu hanya 200 ton.

Presentasi penggunaan pupuk adalah 70 persen petani karet, sisanya atau 30 persen pertanian. "Harga jualnya, sesuai harga eceran tertinggi karena harga subsidi yakni Rp 60 ribu per sak (kemasan 50 kilogram) atau Rp 1.200 per kilogram," sebut Suharto sembari menyebutkan pembelian pupuk oleh petani dilakukan secara kontan/tunai.

Saat ini, menurutnya, CV Fahrin Kubar masih melayani penjualan pupuk di lima kecamatan dari 21 kecamatan se-Kubar. Kelima kecamatan itu adalah Melak, Barong Tongkok, Linggang Bigung, Sekolaq Darat, dan Bongan. Gudang CV Fahrin Kubar di Kecamatan Linggang Bigung Jalan Pasar Nala RT I. Kemudian di Kecamatan Barong Tongkok tepatnya di Kampung Simpang Raya dekat Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning. "Tapi yang di Simpang Raya, ada rencana mau pindah ke jalan poros Samarinda, dekat Apotek Tanaa Purai Ngeriman Barong Tongkok," terangnya.

DIKUTIP DARI KALTIMPOST, SENIN, 4 JANUARI 2010

Artikel Terkait