(0541)736852    (0541)748382    disbun@kaltimprov.go.id

Pengendalian Jamur Akar Putih, UPTD P2TP Disbun Kaltim Perkuat Mitigasi Serangan OPT Karet

22 November 2025 Afif Berita Daerah 52
Pengendalian Jamur Akar Putih, UPTD P2TP Disbun Kaltim Perkuat Mitigasi Serangan OPT Karet

KUTAI BARAT. Ancaman penyakit Jamur Akar Putih (JAP) semakin nyata di sejumlah sentra perkebunan karet di Kutai Barat. Melihat potensi kerugian yang dapat ditimbulkan, UPTD Pengembangan Perlindungan Tanaman Perkebunan (P2TP) Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim) turun langsung melakukan kegiatan pengendalian intensif di Kecamatan Sekolaq Darat dan Kecamatan Linggang Bigung selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 November 2025.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memutus rantai infeksi penyakit akar paling berbahaya pada tanaman Hevea brasiliensis tersebut.

Program pengendalian JAP dilaksanakan sebagai bagian dari upaya mitigasi Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang dikoordinasikan oleh Brigade Proteksi Tanaman Provinsi Kalimantan Timur, dengan dukungan penuh dari Petugas OPT setempat.

Tim gabungan ini melakukan identifikasi lapangan, pemeriksaan tingkat keparahan serangan, serta aksi penanganan langsung di kebun-kebun karet milik petani.

Berdasarkan temuan lapangan, serangan JAP di dua kecamatan tersebut bervariasi dari kategori ringan hingga berat, ditandai gejala tajuk berupa daun menguning, layu, hingga gugur dini (defoliasi), serta gejala akar berupa benang-benang jamur putih (rizomorf) yang menempel kuat pada perakaran.

Kepala UPTD P2TP Disbun Kaltim, Ruspiansyah, menjelaskan bahwa JAP atau Rigidoporus lignosus adalah penyakit yang sangat merusak dan dapat menyebabkan penurunan produksi lateks secara drastis jika tidak ditangani dengan cepat. Ia menjelaskan bahwa deteksi dini merupakan kunci utama untuk menjaga produktivitas kebun karet.

“Serangan JAP yang dibiarkan dapat membunuh tanaman dalam waktu singkat. Pengendalian harus dilakukan secara tepat, terintegrasi, dan melibatkan seluruh komponen, mulai petani hingga petugas lapangan," ujar Ruspiansyah

Ruspiansyah juga menambahkan bahwa ancaman penyakit ini tidak hanya berdampak pada tanaman individu, tetapi dapat menyebar cepat antar pohon melalui kontak akar jika tidak segera diputus sumber inokulumnya.

Pengendalian penyakit dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu kuratif dan preventif. Penanganan kuratif difokuskan pada tanaman yang telah terinfeksi. Petugas membuka area perakaran dengan menggali tanah di sekitar leher akar untuk membersihkan rizomorf yang menempel.

Bagian akar yang terinfeksi dikerok secara hati-hati sebelum dilakukan aplikasi fungisida atau agens hayati Trichoderma spp. sebagai penekan pertumbuhan jamur patogen. Untuk tanaman dengan tingkat infeksi lebih dari 50 persen, dilakukan eradikasi berupa penebangan dan pembongkaran tunggul agar tidak menjadi sumber infeksi lanjutan.

Sementara itu, pengendalian preventif dilakukan pada lahan yang belum terserang atau di area sekitar tanaman yang telah diobati.

Langkah pencegahan meliputi pembersihan tunggul dan sisa kayu sebelum penanaman, penerapan agens hayati Trichoderma spp. pada lubang tanam, serta anjuran penanaman tanaman penutup tanah seperti Pueraria javanica.

Petugas juga mendorong penanaman Sansevieria (lidah mertua) sebagai tanaman antagonis alami yang mampu menekan pertumbuhan patogen tanah.

Selain tindakan teknis, kegiatan ini turut diisi dengan edukasi lapangan kepada para petani mengenai cara identifikasi dini, sanitasi kebun, dan metode aplikasi agens hayati yang tepat.

Para petani dibekali pemahaman tentang pentingnya monitoring tanaman secara rutin agar gejala awal JAP dapat segera dikenali sebelum menyebar lebih luas.

Pelatihan ini sekaligus menjadi forum diskusi interaktif antara petugas dan petani dalam membahas tantangan pengendalian OPT di lapangan.

Pelaksanaan pengendalian di Sekolaq Darat dan Linggang Bigung berjalan lancar dengan dukungan penuh petugas Kabupaten/Kota dan Brigade Proteksi Provinsi.

Sebagai tindak lanjut, Disbun Kaltim merekomendasikan monitoring berkala setiap tiga bulan untuk memastikan efektivitas pengendalian serta melakukan evaluasi rutin terhadap kondisi kebun.

UPTD P2TP juga menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan agens hayati, pendampingan teknis, dan pelatihan berkelanjutan bagi petani di wilayah Kutai Barat.

Ruspiansyah berharap upaya pengendalian intensif ini dapat memperkuat ketahanan kebun karet rakyat di Kalimantan Timur. Ia menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, petani, dan petugas lapangan menjadi kunci menjaga keberlanjutan produktivitas karet dari ancaman penyakit akar.

“Kami berharap para petani semakin sadar pentingnya sanitasi kebun dan pengawasan berkala. Penanganan dini adalah pertahanan terbaik untuk mencegah kerugian besar,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi bukti komitmen Disbun Kaltim dalam melindungi komoditas perkebunan strategis melalui pengendalian OPT yang terarah, preventif, dan berkelanjutan. (fif/disbun)

SUMBER : SEKRETARIAT

Artikel Terkait