Pantai Gading kekeringan, harga kakao siap melambung
06 September 2011 Admin Website Artikel 290
JAKARTA: Harga kakao berpotensi meningkat di London karena spekulasi cuaca kering di Pantai Gading --penghasil terbesar komoditas tersebut, dapat membuat produksi kakao menurun.
 
Curah hujan kumulatif pada April hingga Agustus 2011 di Pantai Gading merupakan yang terendah sejak 2004. Marex Spectron Group, broker yang berbasis di London menyebutkan permintaan kakao dapat melebihi produksi 59 ribu metrik ton pada musim bulan September.
 
"Kondisi cuaca di Afrika Barat ini tidak mendukung seperti pada musim sebelumnya. Ekspektasi kami produksi akan lebih kecil," jelas Keith Flury, analis Rabobank International di London, seperti dikutip bloomberg.
 
Harga kakao untuk pengiriman Desember turun 0,1% atau 1 poundsterling ke level 1.950 poundsterling (US$ 3.151) per ton pada 10.47 di NYSE LIFFE di London.
 
Para spekulan mengurangi posisi jualnya, atau bertaruh pada kakao berjangka yang lebih rendah di New York, dengan penurunan 13% pada pekan yang berakhir 30 Agustus 2011. Sementara industri meningkatkan posisi beli, atau bertaruh pada harga yang lebih tinggi yakni sebesar 1,9%. Menurut data Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka AS,  mengambil posisi jualnya biasa disebut dengan short-covering.
 
"Kekhawatiran atas musim panen baru mengakibatkan short-covering [melepas kontrak] oleh penjual dan pembelian oleh komersil," tulis Flury.
 
Ekspor Indonesia
 
Berdasarkan data dari Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), pengiriman biji kakao dari Indonesia mengalami penurunan 46% pada Agustus 2011 dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini terjadi karena masa menjelang lebaran telah mengurangi penjualan.
 
Ketua Askindo Zulhefi Sikumbang mengungkapkan penurunan produksi juga terjadi pada Agustus lalu yakni mencapai 50%.
 
“Tiap bulan biasanya Indonesia menghasilkan 30 ribu ton kakao. Estimasinya bulan Agustus lalu hanya sekitar 7.000 ton,” ujar Zulhefi saat dihubungi Bisnis, hari ini.
 
Sementara itu, Zulhefi menyebutkan harga kakao saat ini masih pada kisaran US$2.800 sampai US$3.100 per ton. “Posisis terakhir berada di level US$3.060 per ton,” sebut dia.
 
Seperti diketahui, berdasarkan data Organisasi Kakao Internasional, Indonesia merupakan penghasil kakao ketiga terbesar dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.

DIKUTIP DARI BISNIS INDONESIA, SENIN, 5 SEPTEMBER 2011

Artikel Terkait