Harga CPO Masih Menguntungkan
26 Mei 2009 Admin Website Artikel 279
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kaltim HS Sjafran mengaku kurang sependapat dengan pernyataan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menegristek) Kusmayanto Kadiman yang meminta pengurangan ekspor CPO. "Soalnya, harga CPO dunia masih cukup baik. Sedangkan produksi kebutuhan CPO dalam negeri sudah terpenuhi," sebutnya.

#img1# Dijelaskan Sjafran, dari 18 juta ton produksi CPO nasional, kebutuhan dalam negeri hanya 5 juta ton. Itu sebabnya, saat ini ekspor minyak sawit mentah dinilai masih relevan. "Tapi kalau industri hilir seperti minyak goreng, mentega, atau biodiesel dibangun, tentu akan lebih baik lantaran nilai barang yang diekspor bertambah," ungkapnya.

Sjafran menjelaskan, ada dua jenis produk utama turunan dari CPO. Pertama, produk di bidang energi seperti biodiesel dan kedua, bahan makanan seperti mentega dan minyak bumi. Dari dua jenis produk itu, industri mana yang lebih tepat dibangun di Kaltim?

"Kalau menurut saya lebih tepat bahan makanan. Karena permintaannya terus meningkat seiring dengan jumlah penduduk, walaupun permintaan untuk biodiesel juga cukup baik," jelas mantan sekretaris provinsi (sekprov) Kaltim ini.

Menurutnya, para pengusaha kelapa sawit juga ingin ambil bagian membangun industri hilir. "Investasi untuk industri hilir itu "kan tidak sedikit. Banyak pengusaha yang memikirkan modal, akhirnya memilih lebih baik mengekspor CPO saja. Kami berharap ada bantuan dari lembaga keuangan," tuturnya.

Sementara Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak terus meyakinkan pengusaha, bahwa perkebunan kelapa sawit menjadi fokus pembangunan Kaltim. Menjawab kesulitan pengusaha seperti perizinan, lahan, infrastruktur, dan peraturan daerah yang berbeda-beda, Gubernur mengaku terus memperbaiki sistem yang ada.

"Komitmen pemprov dalam perkebunan sangat tinggi. Contohnya pembangunan Pelabuhan Maloy sebagai kawasan ekonomi khusus, termasuk CPO," tandasnya.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, MINGGU, 24 MEI 2009

Artikel Terkait