100 Tahun Komersialisasi Sawit RI
23 Oktober 2010 Admin Website Artikel 338

Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) akan merayakan komersialisasi komodisi sawit yang ke-100 tahun di Indonesia. Perayaan ini berbarengan dengan maraknya isu negatif yang menerpa industri sawit Indonesia belakangan ini.

Puncak perayaan akan dilakukan pada tanggal 28-30 Maret 2011 di Tiara Convention Center Medan, Sumatera Utara.

"Tahun depan tepat 100 tahun komersial sawit di Indonesia," kata Ketua Umum Gapki Joefly Bahroeny di acara celebrating 100 years commercial oil palm industry in Indonesia di Hotel Borobudur, Jumat (22/10/2010).

Dikatakannya, komersialisasi sawit sebagai komoditas penting di Indonesia setidaknya sudah dimulai sejak tahun 1911 yaitu ketika dibangun dua perkebunan sawit Kebun Pulo Raja dan Kebun Tanah Itam Ulu di Sumatera Utara yang merupakan milik PTPN IV.

Hal ini menempatkan Sumatera Utara sebagai wilayah perintis perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Hingga kini kebun-kebun Kebun Pulo Raja dan Kebun Tanah Itam Ulu  masih ada dan tumbuh produktif.

"Pada tahun 1916 dibangun lembaga penelitian untuk mendukung pengembangan kelapa sawit," katanya.

Joefly menjelaskan perkembangan komersialisasi sawit mengalami pasang surut. Pada tahun 1960-an mengalami perkembangan yak tak menggembirakan karena adanya gejolak politik pada waktu itu di Tanah Air.

Sesuai berjalannya waktu perkebunan sawit Indonesia terus berkembang. Hingga tahun 2009 luasan lahan sawit Indonesia sudah mencapai sekitar 7 juta hektar atau sudah mencapai 50 kalilipat dari tahun 1970-an yang hanya seluas 1333 hektar.

"Indonesia menghasilkan 22 juta ton produksi CPO saat ini, menjadi produsen sawit terbesar di dunia. Jika digabung dengan produksi Malaysia, maka menguasai 80% perdagangan sawit dunia," katanya.

Seperti diketahui tanaman sawit yang kini menghampar di berbagai lahan di tahan air berawal dari hanya 4 buah pohon sawit pemberian pemerintah Afrika Barat di zaman kolonial Belanda abad ke-19 lalu.

Sejalan dengan perkembangan waktu, dari 4 pohon itu dikembangkan oleh para peneliti Belanda dan Indonesia, sehingga menghasilkan sebuah produk komoditi yang diperhitungkan di pasar internasional.
 
Awalnya, pohon sawit hanyalah tanaman hias di Kebun Raya, yang berasal dari hadiah  pemerintah Afrika Barat sebanyak 4 pohon. Pada tahun 1848 pohon keempat telah ditanam dan pohon terakhir telah mati pada tahun 2002 lalu.

 

DIKUTIP DARI DETIK, JUMAT, 22 OKTOBER 2010


Artikel Terkait