Bursa berjangka kelapa sawit butuh daya tarik khusus
01 Agustus 2011 Admin Website Artikel 332
JAKARTA: Asosiasi pengusaha menilai perusahaan-perusahaan kelapa sawit di dalam negeri akan tertarik memperdagangkan komoditasnya pada bursa berjangka di dalam negeri seandainya ada infrastruktur dan daya tarik berupa likuiditas.

Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), mengatakan pada prinsipnya pengusaha akan tertarik melakukan transaksi perdagangan berjangka komoditas di pasar di dalam negeri kalau menguntungkan.

Dia mengakui sejumlah pengusaha sawit lokal sudah mulai melakukan transaksi perdagangan kontrak berjangka di bursa komoditas di dalam negeri. Namun begitu, lanjutnya, jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan partisipasi di bursa luar.

Selain itu, tambahnya, pengusaha masih berpatokan terhadap harga di bursa luar. Bursa yang menjadi patokan harga minyak kelapa sawit (CPO) adalah Bursa Derivatif Malaysia (Malaysia Derivative Exchange/MDX) dan bursa Rotterdam.

“Kinerja bursa harus benar-benar kredibel agar para pelaku tertarik bertransaksi di sana. Harganya baik, bisa jadi patokan. Intinya infrastruktur dan peraturan-peraturannya jelas. Sekarang sudah mulai [bertransaksi], tapi belum banyak,” ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Di dalam negeri, produk kontrak minyak kelapa sawit dan turunannya diperdagangkan melalui Bursa Komoditas Derivative Indonesia (BKDI)/Indonesia Commodity and Derivative Exchange(ICDX) dan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ)/Jakarta Future Exchange (JFX).

Total transaksi kontrak perdagangan berjangka minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) berdenominasi rupiah (CPOTR) yang diperdagangkan oleh BKDI sepanjang semester 1/2011 mencapai 294.423 lot pasang atau 85,6% dari total transaksi sebanyak 343.926 lot pasang.

Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan jumlah transaksi CPOTR sebanyak 7.265 lot pasang atau 28,13% dari total transaksi 25.820 lot pasang pada semester I/2010. “Kami memang fokus mengembangkan kontrak CPO,” ujar Direktur Utama BKDI Megain Wijaya.

Bursa yang baru berumur 2 tahun ini menargetkan kenaikan jumlah transaksi menjadi 10.000 lot pasang per hari pada akhir tahun untuk produk CPOTR dengan target optimistis sekitar 7.000 – 8.000 pasang lot per hari.

Sementara itu Bursa Berjangka Jakarta memperdagangkan kontrak berjangka produk turunan CPO yaitu olein.

Adapun mengenai harga, Fadhil berpendapat harga minyak kelapa sawit dalam beberapa pekan ke depan berpotensi naik meskipun panen telah dimulai di sejumlah kawasan produsen kelapa sawit.

Pasalnya, lanjutnya, permintaan cenderung naik karena penyelenggaraan berbagai jenis perayaan di sejumlah negara pada paruh kedua tahun ini.

“Harga CPO saat ini sudah mulai membaik dibandingkan periode sebelumnya. Ke depan kemungkinan akan naik karena permintaan tinggi meskipun sekarang sudah mulai masuk panen,” ujarnya kepada Bisnis.

Pekan lalu harga minyak kelapa sawit mengalami penurunan pertama kali dalam 4 pekan dipicu spekulasi kebuntuan negosiasi pemerintah dan senat AS soal plafon utang untuk menghindari gagal bayar.

Harga kontrak minyak kelapa sawit untuk pengiriman Oktober turun 0,6% menjadi 3.096 ringgit (US$1.044) per metrik ton pada penutupan perdagangan pekan lalu di bursa Malaysia. Sepanjang pekan lalu harga kontrak berjangka turun 1,4%, mengurangi keuntungan bulan ini menjadi 0,8%.


DIKUTIP DARI BISNIS INDONESIA, MINGGU, 31 JULI 2011

Artikel Terkait